Di Golgota
hampir semua orang menolak
Yesus. Hanya beberapa orang
saja yang mengetahui
siapa Dia sebenarnya—terma-
suk di antara mereka yang mengenal-Nya ialah pencuri
yang hampir mati yang menye-
but Dia Tuhan (Luk. 23:42), dan serdadu Ro- ma yang berkata,
“Sungguh, orang ini ada-
lah Anak Allah!” (Mrk. 15:39).
Tatkala Yohanes menulis,
“Ia datang kepa-
da milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11), yang dipikirkan Yohanes
bukan- lah hanya orang banyak
yang ada di sekeli- ling salib itu, bahkan bukan
hanya orang Is- rael, melainkan setiap generasi
yang pernah hidup. Kecuali
beberapa gelintir saja, semua
manusia, seperti orang-orang yang berteriak
hingga parau di bukit Golgota, telah gagal mengenal Yesus Tuhan dan Juruselamat me- reka. Kegagalan ini menunjukkan bahwa pe- ngetahuan manusia mengenai
Allah sangat kurang dan terbatas
sekali.
PENGETAHUAN MENGENAI
ALLAH
Telah banyak teori
yang dilontarkan ‘un- tuk menjelaskan ihwal
Allah, banyak pula
sanggahan untuk Dia dan
menentang ada- nya Dia, hal ini
menunjukkan bahwa akal budi manusia
tidak mampu menembus
yang Ilahi. Kalau bergantung
kepada akal budi manusia saja
untuk menyelidiki mengenai Tuhan sama saja dengan menggunakan sebu- ah kaca
pembesar untuk mempelajari ilmu perbintangan. Karena itu, bagi banyak orang hikmat Tuhan adalah
“hikmat yang tersem- bunyi”
(1 Kor. 2:7). Bagi mereka
Tuhan ada- lah
misteri. Rasul Paulus menulis,’ Tidak ada dari
penguasa dunia ini yang mengenal-Nya,
sebab kalau sekiranya mereka mengenal-
Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia” (1 Kor. 2:8).
Salah satu perintah
Tuhan yang sangat
mendasar dari Kitab Suci
ialah supaya me- ngasihi “Tuhan, Allahmu, dengan segenap
29
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de- ngan segenap
akal budimu” (Mat. 22:37; bandingkan
dengan Ul. 6:5). Kita tidak
da- pat mengasihi seseorang yang
sama sekali tidak kita kenal,
bahkan kita tidak
dapat me- nyelidiki perkara-perkara Allah yang sangat mendalam (Ayb. 11:7). Kalau begitu,
bagai- manakah kita dapat
mengenal serta menga- sihi Pencipta kita?
Allah Dapat Diketahui
atau Dikenal. Mengingat manusia yang berada dalam kea-
daan serba berbahaya itu, Allah di dalam ka-
sih-Nya dan panjang sabar-Nya, menjangkau
kita melalui Alkitab.
Ditunjukkannya bah- wa ‘Kekristenan
bukanlah sebuah catatan dari hal pertanyaan
manusia mengenai Al- lah;
melainkan hasil pernyataan
Allah dari hal diri-Nya dan
maksud-tujuan-Nya kepa- da
manusia.”1 Pernyataan diri ini direncana- kan untuk menjembatani jurang antara du- nia
yang memberontak dengan Tuhan yang pemurah.
Pernyataan kasih Allah yang terbesar me- lalui pernyataan-Nya yang paling agung, yak- ni dengan kehadiran Yesus Kristus, Anak- Nya itu. Melalui Yesus kita dapat mengenal Dia, sang Bapa. Sebagaimana Yohanes me- ngatakan, “Anak Allah telah datang dan te-
lah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar” (1 Yoh.
5:20).
Yesus berkata, “Inilah
hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan menge-
nal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3).
Inilah kabar baik. Walaupun mustahil
me- ngetahui Tuhan sepenuhnya, namun Kitab
Suci memberikan Pengetahuan praktis ten- tang Dia yang
cukup memadai untuk kita
masuki suatu hubungan yang
menyelamat- kan dengan Dia.
Memperoleh Pengetahuan Mengenai Allah. Tidak seperti pengetahuan lainnya, pengetahuan mengenai Allah sama kadarnya
antara hati dengan pikiran. Pengetahuan yang demikian
mencakup keseluruhannya, tidak hanya intelek saja. Harus ada keterbukaan terhadap
Roh Kudus dan kemauan untuk me- lakukan
kehendak Allah (Yoh. 7:17; banding-
kan Mat. 11:27).
Yesus berkata, “Berbaha- gialah orang yang suci hatinya,
karena mere- ka akan melihat Allah” (Mat 5: 8).
Oleh karena itu, orang-orang yang tidak
beriman, tidak dapat memahami Tuhan. Ra- sul
Paulus berseru, “Di manakah orang yang
berhikmat? Di manakah ahli Taurat?
Di ma- nakah pembantah dari
dunia ini? Bukankah Allah telah membuat
hikmat dunia ini men-
jadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hik- matnya, maka Allah berkenan
menyelamat- kan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1 Kor. 1:20, 21).
Cara untuk mempelajari
pengetahuan mengenai Allah dari Alkitab
berbeda dengan
segala macam metode pengetahuan. Kita ti- dak
boleh menempatkan diri kita sendiri
di atas Allah dan memperlakukan-Nya sebagai objek analisis dan
objek ukuran. Kalau kita meneliti Allah untuk memperoleh pengeta-
huan mengenai Dia, kita
harus tunduk ke- pada otoritas penyataan diri-Nya,
Alkitab. Karena .Alkitab sendirilah
yang menjadi penafsirnya maka kita
harus taat kepada prinsip-prinsip dan metode yang terkandung
di
dalamnya. Tanpa bimbingan
yang Alkita- biah kita
tidak akan dapat
mengenal Allah.
Mengapa begitu banyak
orang yang hi- dup pada masa
Yesus dahulu tidak mampu
melihat pernyataan diri Allah di dalam Ye- sus?
Sebabnya ialah karena mereka meno-
lak bimbingan Roh Kudus melalui
Alkitab, mereka menafsirkan pekabaran Allah de- ngan cara yang salah serta menyalibkan
Ju-
ruselamat mereka. Masalah mereka bukan-
lah masalah intelek. Karena mereka menu- tup
pintu hati mereka,
maka pikiran mereka pun
digelapkan, akibatnya ialah kematian yang kekal.
EKSISTENSI ALLAH
Ada dua sumber utama bukti adanya Tu- han, yakni:
buku alam dan Kitab
Suci.
Bukti dari Penciptaan. Setiap orang da- pat belajar mengenai adanya Allah melalui alam dan pengalaman manusia.
Daud menu- lis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan ta- ngan-Nya”
(Mzm. 19:2). Yohanes
berpenda- pat bahwa pernyataan Allah,
termasuk alam, menerangi setiap
orang (Yoh. 16).
Paulus pun menyatakan, “Sebab apa
yang tidak
nampak dari pada-Nya; yaitu kekuatan-Nya
yang kekal dan keilahian-Nya,
dapat nam- pak kepada pikiran
dari karya-Nya sejak du-
nia
diciptakan, sehingga mereka tidak dapat
berdalih” (Rm. 1:20).
Perilaku manusia juga menunjukkan buk- ti adanya
Allah. Di dalam perbaktian orang Athena ada yang disembah yang disebut “Al- lah
yang tidak dikenal,” dan disinilah Pau- lus melihat bukti adanya Tuhan Allah.
Kata Paulus, “Apa yang kamu sembah
tanpa me- ngenalnya, itulah
yang kuberitakan kepada kamu” (Kis. 17:23). Paulus juga mengata- kan perilaku orang-orang
yang bukan Kris- ten memberikan kesaksian mengenai “do- rongan diri sendiri” serta
menunjukkan bah- wa Taurat Allah tertulis “di dalam hati mere-
ka” (Rm. 2:14, 15). Intuisi seperti ini pun, mengenai adanya Allah, terdapat
pada orang yang mengetahui Alkitab. Pernyataan yang umum
mengenai Allah ini membawa kepa- da sejumlah argumen rasional yang klasik tentang adanya
Allah?
Bukti dari Kitab Suci.
Alkitab tidak membuktikan adanya Allah.
Melainkan me- nganggapnya ada. Pada pembukaan Alkitab
itu menyatakan, “Pada mulanya Allah men- ciptakan langit dan bumi” (Kej.1:1): Alkitab menggambarkan Allah sebagai Pencipta, Pe- nyokong dan
Pemerintah semua makhluk ciptaan. Pernyataan Allah melalui pencip- taan amat tangguh sehingga tiada dalih bagi
penganut ateisme, yang justru
timbul dari penindasan kebenaran
Ilahi atau dari buah pikiran orang yang menolak mengakui buk- ti bahwa Allah itu ada (Mzm. 14:1; Rm. 1;18-
22, 28).
Cukup banyak bukti tentang adanya Al-
lah
yang meyakinkan siapa pun yang dengan
sungguh-sungguh berusaha mencari
kebe- naran mengenai
Dia. Namun demikian, iman adalah prasyarat
karena”tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada
Allah. Se- bab barangsiapa berpaling kepada Allah,
ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah
memberi upah kepada orang yang
sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Beriman kepada Allah tidak berarti buta.
Iman kepada Allah itu didasarkan
pada buk- ti yang cukup memadai
yang terkandung da- lam perwujudan
Allah melalui Kitab Suci dan alam.
ALLAH BERDASARKAN KITAB SUCI
Alkitab menyatakan ciri-ciri hakiki
Al- lah
melalui nama-Nya, kegiatan-kegiatan dan sifat-sifat-Nya.
Nama-nama Allah. Pada masa
Alkitab ditulis, nama amat penting
sebagai mana pa-
da umumnya
kebiasaan yang masih berlaku sekarang ini di Timur Dekat dan Timur. Ada
nama yang dianggap
menunjukkan sifat-sifat
pemiliknya, bagaimana sifatnya yang sebenar-
nya dan berikut identitasnya. Pentingnya nama-
nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi-
at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan
dalam hukum- Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-
mu, dengan sembarangan” (Kel. 20:7).
Daud menyanyi: “Aku hendak
bersyukur kepada Tu- han karena keadilan-Nya” (Mzm. 7:18). “Na- ma-Nya kudus
dan dahsyat” (Mzm. 111:9). “Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm.
148:13).
Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”)
menunjukkan kuasa Tuhan Allah.
Digambar- kannya Tuhan sebagai
Oknum yang kokoh dan perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1; Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating-
gi”) dan El Elyon (“Allah
Yang Mahatinggi”) berfokus pada peninggian
kedudukan-Nya (Kej. 14:18-20;
Yes. 14:14). Adonai (Tuhan) menggambarkan Allah sebagai
Penjaga dan Pembela
(Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama
ini menekankan sifat Allah yang agung dan amat mulia.
Nama-nama lain yang dimiliki
Allah me- nunjukkan
kesediaan-Nya menjalin hubung-
an dengan umat manusia.
Shaddai (“Yang Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang
Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1).
Nama Yahweh diterjemahkan Jehovah atau
Tuhan, menekankan
janji setia Allah dan kemurah-
an-Nya (Kel. 15:2, 3;
Hos. 12:5, 6) Di da- lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri- Nya sebagai “AKU ADALAH AKU,” atau “AKULAH AKU telah mengutus aku kepa-
damu,” menunjukkan hubungan-Nya yang tidak dapat diubah terhadap
umat-Nya. Da- lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al- lah menyatakan
diri-Nya dengan cara yang sangat akrab dengan sebutan “Bapa” (Ul. 32:
6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye- but
orang Israel dengan “Israel ialah anak
Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul.
32:19).
Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang terdapat dalam
Perjanjian Baru, yang ditu- jukan kepada Allah mengandung kadar mak- na yang
setara dengan yang terdapat di da-
lam Perjanjian Lama. Di
dalam Perjanjian Baru Yesus menggunakan kata Bapa untuk
meng-akrabkan kita secara pribadi
dengan Allah (Mat. .6:9; Mrk.
14:36; bandingkan Rm. 8: 15; Gal. 4:6).
Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis
Alkitab menggunakan lebih banyak
waktu untuk melukiskan kegiatan-kegiatan
Allah daripada ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se- bagai
Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe-
nopang dunia (Ibr. 1:3),
dan Penebus
serta Juruselamat.(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-
kat beban demi kepentingan nasib manusia.
Ia mengadakan
rencana-rencana (Yes. 46:
11), ramalan
(Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul.
15:6; 2 Ptr. 3:9).
Ia mengampuni
dosa-dosa (Kel. 34:7), dan
secara konsekwen meneri- ma ibadah,
kita (Why.
14:6,7).
Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah sebagai Pemerintah “Raja segala zaman,
Al- lah yang kekal,
yang tak nampak,
yang Esa” (1 Tim. 1:17).
Tindakan-tindakan yang dila-
kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang berpribadi.
Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab
memberikan informasi tambahan mengenai hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian
tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.
Ciri-ciri Allah yang tidak dapat diung- kapkan berisi aspek-aspek sifat Keilahian-
Nya tidak diberikan kepada
makhluk yang diciptakan. Allah ada dengan sendirinya, ka- rena Ia memiliki
“hidup dalam diri-Nya
sen- diri” (Yoh. 5:26).
Ia independen
dalam ke- hendak (Ef. 1:5),dan dalam kuasa (Mzm.
115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se-
suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18;
147:5;
1 Yoh. 3:20), karena sebagai Alfa dan Ome- ga (Why. 1:8), Ia mengetahui
akhir dari per- mulaan.
(Yes. 46:9-11).
Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4:
13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir
dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm.
90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na- mun demikian
hadir sepenuhnya dalam seti-
ap
saat.
Allah penuh kuasa, Mahakuasa. Oleh ka- rena itu, tidak ada yang tidak mungkin
bagi- Nya untuk menjamin
bahwa Ia memenuhi apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17,
25, 35; Mat. 19:26;
Why. 19:6). Ia kekal— atau tidak dapat diubah—karena sesungguh- nya Ia
sempurna. Ia berkata, “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah”
(Mal. 3:6; baca Mzm. 33:11; Yak. 1:17).
Oleh karena itu, ci-
ri-ciri ini menyatakan bahwa
Allah itu ke- kal selama-lamanya.
Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma- nusia. Dicakupnya
kasih (Rm. 5:8), kasih ka- runia (Rm. 3:24), kemurahan
(Mzm. 145:9), sabar (2
Ptr 3:15),
suci (Mzm. 99:9), kebe- naran (Ezr. 9:15; Yoh.
17:25), keadilan (Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh.
5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber- sama dengan Pemberi
itu sendiri.
KEDAULATAN ALLAH
Jelas sekali Kitab
Suci mengajarkan ke- daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen-
dak-Nya.... Dan tidak ada seorang
pun yang dapat menolak
tangan-Nya” (Dan. 4:35). “Sebab
Engkau telah menciptakan
segala sesuatu; dan oleh karena
kehendak-Mu se- muanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11). “Tuhan
melakukan apa yang dikehendaki- Nya, di langit dan di bumi” (Mzm. 135: 6).
Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati
raja seperti batang air di dalam tangan Tu- han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini” (Ams.
21:1). Paulus yang waspada
atas kedaulatan Allah, menulis sebagai
berikut, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghen-
dakinya.” (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32).
Se- mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen- dakinya” (Yak. 4:15).
Penentuan nasib lebih dahulu
dan Ke- bebasan Manusia. Alkitab juga menyata- kan pengendalian yang dilakukan Allah se-
penuh-nya atas dunia ini.
“Mereka juga di- tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se- rupa dengan gambaran Anak-Nya
itu (Rm.
8: 29, 30), ditentukan-Nya
menjadi anak- anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4,
5, 11). Betapa
suatu pernyataan yang tidak langsung mengenai kebebasan manusia itu.
Kata kerja menentukan dari sejak semu-
la
berarti “menetapkan sebelumnya.” Banyak
orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar-
kan bahwa Allah secara acak memilih orang untuk selamat sedangkan yang lain membiar- kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me- reka sendiri.
Akan tetapi apabila
konteks ini dipelajari dengan
saksama ternyata Paulus tidaklah
membicarakan mengenai Allah yang secara sewenang-wenang
berubah dan me- nyingkirkan seseorang.
Titik tolak nas ini
ialah sifat yang inclu- sive. Dengan jelas Alkitab menyatakan bah- wa Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). Ia “menghen- daki supaya jangan ada yang binasa,
melain- kan supaya semua
orang berbalik dan berto-
bat”
(2 Ptr. 3:9). Tidak ada bukti yang Allah
telah tetapkan bahwa sebagian
orang harus binasa; pernyataan yang demikian menging- kari kematian Kristus di Golgota, karena Ye-
sus mati di sana bagi semua orang. Kata se- tiap orang dalam nas, “Karena begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga
la telah mengaruniakan Anak-Nya
yang tunggal, su- paya
setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal” (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia- pa pun
dapat diselamatkan.
“Bahwa manusia, yang
mempunyai ke- bebasan memilih adalah faktor yang menen-
tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya- ta bahwa
Allah senantiasa menghadirkan ha-
sil-hasil penurutan
dan hasil-hasil pendurha-
kaan, serta mendorong orang berdosa supa- ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30:
19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17);
dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri- man sangat mungkin, yang pernah
menjadi penerima kasih karunia,
jatuh dan binasa
(1
Kor.
9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29).
“Al- lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu setiap pilihan yang akan dibuat seseorang,
akan tetapi pengetahuan-Nya yang lebih
da- hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang akan diambilnya....
Penentuan lebih dahulu yang terdapat dalam Alkitab tercapai dalam
tujuan efektif yang dirancang Allah yakni,
bahwa semua orang yang
memilih percaya kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh.
1:12; Ef. 1:4-10).
Lalu apakah yang
dimaksud Kitab Suci tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi
Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13)
yang juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge- raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan
dengan ayat 15, 16;
Kel. 9:16; 4:21)? Kon- teks ayat-ayat
ini menunjukkan
bahwa ke- prihatinan Paulus adalah misi,
bukan kese- lamatan. Penebusan
tersedia bagi siapa pun
—namun demikian
Tuhan memilih orang- orang tertentu
untuk melaksanakan tugas khusus. Keselamatan
yang sama diberikan juga kepada Yakub dan Esau, akan tetapi
Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi jalur yang digunakan Allah untuk menyam-
paikan pekabaran keselamatan kepada du- nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam
strategi misi-Nya.
Apabila
Kitab Suci menyebutkan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah
sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku-
kan apa yang diperkenankan-Nya, bukanlah berarti Ia menakdirkannya
begitu. Sambut- an Firaun yang negatif terhadap panggilan Allah yang sebenarnya menggambarkan bah- wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun dalam menentukan pilihannya.
Mengetahui lebih dahulu
dan Kebe-
basan Manusia. Ada orang yang percaya bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri- badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere- ka sampai
mereka mengadakannya sendiri; bahwa
Tuhan mengetahui beberapa peristi-
wa mendatang yang tertentu,
misalnya me- ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille- nium, dan pemulihan
kembali bumi ini, na- mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu-
bungan dinamis Allah dengan umat manu- sia
ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se- gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke-
kekalan kepada kekekalan. Ada pula seba- gian
yang mengatakan bahwa Ia akan bosan
bila Ia mengetahui akhir dari
permulaan.
Akan tetapi pengetahuan Allah mengenai
apa yang akan dilakukan individu-individu
tidak menyatu dengan apa yang sesungguh- nya menjadi pilihan untuk mereka lakukan,
sama halnya pengetahuan seorang ahli seja-
rah
tentang apa yang pernah dilakukan orang pada masa
lalu tidak turut menyatu dengan
tindakan-tindakan mereka. Sama seperti po- tret merekam sebuah pemandangan atau pe-
ristiwa tetapi tidak mengubahnya,
pengeta- huan yang lebih dahulu
(foreknowledge) me-
natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge-
tahui lebih dahulu, sifat yang
dimiliki Ke- allahan itu tidak
pernah melanggar kebe- basan manusia.
DINAMIKA DALAM KEALLAHAN
Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima- na dengan Kristus dan Roh Kudus?
Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se-
keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa
lain itu, bangsa Israel percaya bahwa
Tuhan itu Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per- jan-jian Baru menekankan yang serupa juga mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32;
Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim.
2:5). Pandangan yang
monoteistik ini tidak bertentangan dengan konsep Kristen me-
ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku- dus; malahan
mengukuhkan bahwa tidak ada kuil
pelbagai dewa.
Kemajemukan dalam Keallahan. Wa- laupun Perjanjian
Lama tidak mengajarkan secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising-
gungnya juga mengenai kemajemukan
da- lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng-
gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik-
lah Kita menjadikan manusia menurut. gam-
bar dan rupa Kita” (Kej.
1:26); “Sesungguh-
nya manusia itu
telah menjadi seperti salah satu
dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita turun” (Kej.
11:7). Berulang-ulang malaikat Tuhan diidentifikasi sebagai
Allah. Ketika menampakkan diri kepada
Musa, Malaikat Tuhan berkata, “Akulah
Allah ayahmu, Al- lah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel. 3:6).
Pelbagai petunjuk yang
jelas membeda- kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah
Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan
air” (Kej. 1:2). Sebagian nas
menunjuk bukan saja kepada
Roh tetapi juga kepada pribadi ketiga dalam karya penyela- matan yang berasal dari
Allah: "Dan seka-
rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus Aku (Anak
Allah) dengan Roh-Nya (Roh Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me- naruh Roh-Ku
ke atasnya
(Mesias), supaya ia menyatakan
hukum kepada bangsa-bang-
sa" (Yes. 42:1).
Hubungan dalam Keallahan.
Kedatangan Kristus pertama ke dunia ini memberikan be- gitu banyak
pandangan jelas tentang ketri- tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan bahwa Keallahan
terdiri dari Allah Bapa (ba- ca bab 3 buku ini), Allah Anak (baca bab 4), dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa- tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me- miliki hubungan
unik dan misterius.
1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke- tika Kristus berseru,
“Allahku, Allahku, me- ngapa
Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk.
15:34) Ia merasakan betapa
derita ketera- singan dari Allah
Bapa akibat dosa manusia,
sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah memutuskan hubungan manusia dengan
Al- lah (Kej. 3:6-10;
Yes. 59:2). Pada detik-de- tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal
dosa itu, dijadikan dosa bagi
kita. Dalam memi- kul dosa kita,
mengambil tempat kita, Ia merasakan perpisahan dari Allah yang se-
sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke- matianlah akibatnya.
Orang-orang berdosa tidak
akan pernah dapat memahami
apa anti
kematian Kristus terhadap Keallahan. Dari sejak zaman
keke- kalan Ia telah bersama-sama dengan
Allah Bapa dan Allah Roh. Mereka hidup abadi dan saling
mengasihi. Bekerja sama selalu memperlihatkan kesempurnaan, kasih yang mutlak terdapat
dalam Keallahan. “Allah
adalah kasih” (1 Yoh. 4:8) berarti
bahwa ma- sing-masing hidup bagi orang lain sehingga mereka mengalami kesempurnaan kebaha- giaan yang lengkap.
Mengenai kasih ini diterangkan panjang
lebar dalam 1 Korintus 13.
Sebagian orang mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa- bar dan penderitaan yang terdapat dalam Ke-
allahan, yang memiliki
hubungan kasih yang sempurna. Yang pertama-tama diperlukan ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma-
laikat pemberontak itu, dan kemudian manu- sia yang mendurhaka.
Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al- lah tritunggal
itu. Tritunggal itu Ilahi, na- mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba-
gi. Kalau dalam organisasi
manusia otoritas terakhir terdapat
pada satu orang—misalnya pada presiden, raja, atau perdana menteri.
Di dalam Keallahan,
otoritas terakhir terda-
pat pada ketiganya.
Keallahan itu dalam
wujud pribadi bu- kan satu, sedangkan
dalam tujuan, pikiran dan tabiat
Allah tetap satu. Keesaan ini ti- dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Adanya pribadi-pribadi yang ter-pisah ini
dalam Keilahian tidak menghancurkan pengharapan yang monote- istik yang terdapat dalam
Kitab Suci, bahwa Bapa,
Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah
yang Esa.
2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke- allahan terdapat fungsi penghematan. Allah
tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti- dak perlu.
Tata
tertib adalah hukum perta- ma
sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam
cara-cara yang tertib. Keteraturan
ini dike-
luarkan dan memelihara
persatuan yang ter- dapat
dalam Keallahan. Bapa bertindak se-
bagai sumber,
Anak sebagai Mediator (pengantara), dan
Roh sebagai pewujud atau pelaksana.
Indahnya penjelmaan menunjukkan hu- bungan kerja ketiga
oknum Keallahan itu. Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus
menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me- ngaruniakan
kelahiran Yesus (Yoh. 3:16; Mat. 1:18,
20). Kesaksian malaikat
kepada Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga-
nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu- sia itu.
“Roh Kudus akan turun atasmu
dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena-
ungi engkau; sebab itu
anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus,
Anak
Al- lah” (Luk. 1:35).
Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada
saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan
dorongan yang menguatkan
(Mat. 3:17), Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap- tisan
untuk menjadi teladan bagi kita (Mat.
3:13-15), dan Roh memberikan
diri-Nya Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa
kepada-Nya (Luk. 3:21, 22).
Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku-
dus sebagai penasihat atau penolong
(Yoh.
14:16). Beberapa jam kemudian, ketika ma-
sih tergantung di kayu salib,
Yesus berseru kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me- ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.
27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese- lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi
bagian dalam seluruh keadaan itu.
Sekarang Bapa dan Anak menjangkau ki- ta melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jika-
lau Penghibur yang akan
Kuutus dari Bapa datang,
yaitu Roh Kebenaran yang keluar da- ri Bapa, Ia akan bersaksi tentang
Aku” (Yoh.
15:26). Bapa dan Anak mengirim Roh un- tuk menyatakan Kristus kepada setiap orang.
Beban berat Tritunggal
adalah membawa Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kris- tus kepada
setiap orang (Yoh.
17:3) dan membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20; bandingkan Ibr. 13:5).
Orang-orang percaya
dipilih
untuk selamat, tentang
ini Petrus ber-
kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki- ta, dan
yang dikuduskan oleh Roh, supaya
taat kepada Yesus Kristus
dan menerima per- cikan darah-Nya” (1 Ptr. 1:2).
Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri- badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan
Ye-
sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu- an Roh Kudus menyertai
kamu sekalian” (2
Kor.
13:13). Kristus dalam urutan pertama. Allah berhubungan dengan manusia mela- lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma
menjadi manusia. Walaupun ketiga anggota
Tritunggal itu bekerja sama untuk
menga- dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah yang hidup sebagai manusia,
mati sebagai manusia dan kemudian
menjadi Juruselamat kita (Yoh. 6:47;
Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan tetapi “Sebab Allah mendamaikan dunia de- ngan diri-Nya
oleh Kristus
dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka”
(2
Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata- kan
sebagai Juruselamat kita (bandingkan Tit. 3:4), karena Ia menyelamatkan kita mela-
lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20;
bandingkan Tit. 3:6).
Dalam penghematan fungsi, anggota Ke- allahan dengan pribadi yang berbeda melak- sanakan tugas-tugas yang jelas
dalam upaya menyelamatkan manusia. Pekerjaan Roh Ku- dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un-
tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan
Yesus Kristus
di kayu salib. Melalui Roh Ku- dus
tujuan pendamaian di kayu salib pada pokoknya
menyatakan Kristus sendirilah pendamaian
itu. Oleh karena itulah Paulus mengatakan “Kristus yang adalah pengha- rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).
FOKUS KESELAMATAN
Jemaat yang mula-mula
membaptiskan orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh
Kudus (Mat. 28:19). Sejak
itulah melalui Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya
dinya- takan, Alkitab
berpusat kepada Kristus.
Dia- lah bayang-bayang pengharapan yang di- nyatakan dalam korban-korban serta peraya-
an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu-
rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu-
lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian Lama menatap dan menantikan kedatangan- Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang- an-Nya yang pertama dan berharap akan ke-
datangan-Nya kembali.
Kristus, pengantara di antara
Allah dan kita, dengan demikian
menyatukan kita ke- pada
Keallahan. Yesus adalah “jalan
dan ke- benaran
dan hidup” (Yoh. 14:6). Kabar baik
itu berpusat kepada Seorang Pribadi,
bukan hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan saja—karena Kekristenan itu sendiri adalah Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti, isi
dan konteks
seluruh kebenaran dan hi- dup.
Dengan memandang kepada
salib, kita memandang ke dalam hati Allah.
Di dalam alat penyiksaan itu
Ia mencurahkan kasih- Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka- sih Keallahan
memenuhi hati kita yang ham- pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu
salib sebagai karunia Allah dan pengganti bagi kita. Di bukit Golgota
Allah turun ke bumi yang paling bawah untuk menemui ki- ta; akan tetapi itulah tempat yang paling ting- gi yang dapat kita tuju. Apabila
kita pergi ke
bukit Golgota kita naik setinggi
apa yang
dapat kita lakukan untuk menuju Allah.
Di atas kayu salib itulah
Tritunggal me-
nyatakan perwujudan dan kelengkapan
si- fat yang tidak mementingkan diri. Di sana- lah diungkapkan, perwujudan Allah yang pa- ling lengkap.
Kristus menjelma menjadi
manusia dan menjadi korban untuk
bangsa manusia. Ia lebih menghargai sifat tidak me- mentingkan diri daripada sebaliknya. Di sana Kristus menjadi
yang “membenarkan
dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:
30). Apa pun nilai dan makna yang kita mi-
liki atau yang pernah kita miliki berasal da- ri pengorbanan-Nya
di kayu
salib.
Allah yang benar hanyalah
Allah dari salib itu. Kristus
membukakan kepada alam
semesta kasih Keallahan
yang tiada batas-
nya itu berikut
kuasa yang menyelamatkan;
diperkenalkan-Nya Allah Tritunggal
yang re- la menjalani
derita keterpisahan karena cin- ta kasih yang tidak bersyarat yang diberikan
kepada planet yang memberontak.
Dari sa- lib inilah Allah mengumumkan undangan-
Nya yang penuh kasih kepada
kita: Damai- lah, “damai sejahtera Allah, yang melam-
paui segala akal,
akan memelihara hati
dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7).