Selasa, 09 September 2014

JEMBATAN MENUJU KEHIDUPAN YANG MEMUASKAN



Mereka menemukan tulang belulangnya di sisi tempat perlindungan di sebuah pulau terpencil di Atlantik tengah. Seorang pelaut yang tidak dikenal membuat buku harian yang rinci selama 4 bulan. Ia berangkat dari Pulau Ascencion dengan kapal Belanda pada tahun 1725 karena kejahatan yang tidak diungkapkan. Segera ia harus minum darah penyu hanya untuk menghilangkan rasa haus yang mendesak. Penderitaan tubuh lelaki ini sangat berat, tetapi penderitaan yang lebih besar yang tertulis di dalam buku hariannya adalah: perasaan bersalah yang menguasainya.
Ia menuliskan kata-kata seperti: "Taring apakah yang dirasakan manusia fana yang meninggalkan jalan kebenaran, dengan suka hati menambahkan jumlah orang yang terkutuk." Keterasingan pelaut ini di pulau yang sepi disebabkan karena perpisahannya dengan Tuhan. Inilah yang ternyata tidak tertahankan pada akhirnya.
Manusia telah bergumul dengan keterasingan di dalam hatinya sejak Adam dan Hawa "bersembunyi terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman" setelah memakan buah terlarang (Kejadian 3:8). Perasaan aneh yang baru karena malu, bersalah, dan takut memaksa pasangan manusia pertama ini melarikan diri ketika Tuhan datang dan memanggil mereka. Sayangnya, perasaan tersebut adalah sangat kita kenal. Apakah yang menyebabkan perpisahan antara kita dengan Tuhan?
"Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu adalah kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu." - Yesaya 59:2. (Kecuali disebutkan khusus, semua ayat Alkitab di dalam Panduan DISCOVER ini diambil dari Alkitab berbahasa Indonesia terjemahan baru, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia.)


Rabu, 03 September 2014


KEALLAHAN





Text Box: D
Di Golgota hampir semua orang menolak Yesus. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui siapa Dia sebenarnya—terma- suk di antara mereka yang mengenal-Nya ialah pencuri yang hampir mati yang menye- but Dia Tuhan (Luk. 23:42), dan serdadu Ro- ma yang berkata, “Sungguh, orang ini ada-
lah Anak Allah! (Mrk. 15:39).
Tatkala Yohanes menulis, “Ia datang kepa- da milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11), yang dipikirkan Yohanes bukan- lah hanya orang banyak yang ada di sekeli- ling salib itu, bahkan bukan hanya orang Is- rael, melainkan setiap generasi yang pernah hidup. Kecuali beberapa gelintir saja, semua manusia, seperti orang-orang yang berteriak hingga parau di bukit Golgota, telah gagal mengenal Yesus Tuhan dan Juruselamat me- reka. Kegagalan ini menunjukkan bahwa pe- ngetahuan manusia mengenai Allah sangat kurang dan terbatas sekali.
PENGETAHUAN MENGENAI ALLAH

Telah banyak teori yang dilontarkan ‘un- tuk menjelaskan ihwal Allah, banyak pula sanggahan untuk Dia dan menentang ada- nya Dia, hal ini menunjukkan bahwa akal budi manusia tidak mampu menembus yang Ilahi. Kalau bergantung kepada akal budi manusia saja untuk menyelidiki mengenai Tuhan sama saja dengan menggunakan sebu- ah kaca pembesar untuk mempelajari ilmu perbintangan. Karena itu, bagi banyak orang hikmat Tuhan adalah “hikmat yang tersem- bunyi (1 Kor. 2:7). Bagi mereka Tuhan ada- lah misteri. Rasul Paulus menulis, Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal-Nya, sebab kalau sekiranya mereka mengenal- Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia (1 Kor. 2:8).
Salah satu perintah Tuhan yang sangat mendasar dari Kitab Suci ialah supaya me- ngasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap





29








Keallahan                                                               30



hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de- ngan segenap akal budimu(Mat. 22:37; bandingkan dengan Ul. 6:5). Kita tidak da- pat mengasihi seseorang yang sama sekali tidak kita kenal, bahkan kita tidak dapat me- nyelidiki perkara-perkara Allah yang sangat mendalam (Ayb. 11:7). Kalau begitu, bagai- manakah kita dapat mengenal serta menga- sihi Pencipta kita?

Allah Dapat Diketahui atau Dikenal. Mengingat manusia yang berada dalam kea- daan serba berbahaya itu, Allah di dalam ka- sih-Nya dan panjang sabar-Nya, menjangkau kita melalui Alkitab. Ditunjukkannya bah- wa ‘Kekristenan bukanlah sebuah catatan dari hal pertanyaan manusia mengenai Al- lah; melainkan hasil pernyataan Allah dari hal diri-Nya dan maksud-tujuan-Nya kepa- da manusia.1 Pernyataan diri ini direncana- kan untuk menjembatani jurang antara du- nia yang memberontak dengan Tuhan yang pemurah.
Pernyataan kasih Allah yang terbesar me- lalui pernyataan-Nya yang paling agung, yak- ni dengan kehadiran Yesus Kristus, Anak- Nya itu. Melalui Yesus kita dapat mengenal Dia, sang Bapa. Sebagaimana Yohanes me- ngatakan, “Anak Allah telah datang dan te- lah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar” (1 Yoh. 5:20).
Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan menge- nal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3).
Inilah kabar baik. Walaupun mustahil me- ngetahui Tuhan sepenuhnya, namun Kitab Suci memberikan Pengetahuan praktis ten- tang Dia yang cukup memadai untuk kita masuki suatu hubungan yang menyelamat- kan dengan Dia.
Memperoleh Pengetahuan Mengenai Allah. Tidak seperti pengetahuan lainnya, pengetahuan mengenai Allah sama kadarnya antara hati dengan pikiran. Pengetahuan yang demikian mencakup keseluruhannya, tidak hanya intelek saja. Harus ada keterbukaan terhadap Roh Kudus dan kemauan untuk me- lakukan kehendak Allah (Yoh. 7:17; banding- kan Mat. 11:27). Yesus berkata, “Berbaha- gialah orang yang suci hatinya, karena mere- ka akan melihat Allah” (Mat 5: 8).
Oleh karena itu, orang-orang yang tidak beriman, tidak dapat memahami Tuhan. Ra- sul Paulus berseru, “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di ma- nakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini men- jadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hik- matnya, maka Allah berkenan menyelamat- kan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1 Kor. 1:20, 21).
Cara untuk mempelajari pengetahuan mengenai Allah dari Alkitab berbeda dengan segala macam metode pengetahuan. Kita ti- dak boleh menempatkan diri kita sendiri di atas Allah dan memperlakukan-Nya sebagai objek analisis dan objek ukuran. Kalau kita meneliti Allah untuk memperoleh pengeta- huan mengenai Dia, kita harus tunduk ke- pada otoritas penyataan diri-Nya, Alkitab. Karena .Alkitab sendirilah yang menjadi penafsirnya maka kita harus taat kepada prinsip-prinsip dan metode yang terkandung di dalamnya. Tanpa bimbingan yang Alkita- biah kita tidak akan dapat mengenal Allah.
Mengapa begitu banyak orang yang hi- dup pada masa Yesus dahulu tidak mampu melihat pernyataan diri Allah di dalam Ye- sus? Sebabnya ialah karena mereka meno- lak bimbingan Roh Kudus melalui Alkitab, mereka menafsirkan pekabaran Allah de- ngan cara yang salah serta menyalibkan Ju-








Keallahan                                                               31



ruselamat mereka. Masalah mereka bukan- lah masalah intelek. Karena mereka menu- tup pintu hati mereka, maka pikiran mereka pun digelapkan, akibatnya ialah kematian yang kekal.

EKSISTENSI ALLAH

Ada dua sumber utama bukti adanya Tu- han, yakni: buku alam dan Kitab Suci.

Bukti dari Penciptaan. Setiap orang da- pat belajar mengenai adanya Allah melalui alam dan pengalaman manusia. Daud menu- lis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan ta- ngan-Nya (Mzm. 19:2). Yohanes berpenda- pat bahwa pernyataan Allah, termasuk alam, menerangi setiap orang (Yoh. 16). Paulus pun menyatakan, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya; yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nam- pak kepada pikiran dari karya-Nya sejak du- nia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Rm. 1:20).
Perilaku manusia juga menunjukkan buk- ti adanya Allah. Di dalam perbaktian orang Athena ada yang disembah yang disebut “Al- lah yang tidak dikenal,” dan disinilah Pau- lus melihat bukti adanya Tuhan Allah. Kata Paulus, “Apa yang kamu sembah tanpa me- ngenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis. 17:23). Paulus juga mengata- kan perilaku orang-orang yang bukan Kris- ten memberikan kesaksian mengenai “do- rongan diri sendiri” serta menunjukkan bah- wa Taurat Allah tertulis “di dalam hati mere- ka” (Rm. 2:14, 15). Intuisi seperti ini pun, mengenai adanya Allah, terdapat pada orang yang mengetahui Alkitab. Pernyataan yang umum mengenai Allah ini membawa kepa- da sejumlah argumen rasional yang klasik tentang adanya Allah?
Bukti dari Kitab Suci. Alkitab tidak membuktikan adanya Allah. Melainkan me- nganggapnya ada. Pada pembukaan Alkitab itu menyatakan, “Pada mulanya Allah men- ciptakan langit dan bumi” (Kej.1:1): Alkitab menggambarkan Allah sebagai Pencipta, Pe- nyokong dan Pemerintah semua makhluk ciptaan. Pernyataan Allah melalui pencip- taan amat tangguh sehingga tiada dalih bagi penganut ateisme, yang justru timbul dari penindasan kebenaran Ilahi atau dari buah pikiran orang yang menolak mengakui buk- ti bahwa Allah itu ada (Mzm. 14:1; Rm. 1;18-
22, 28).
Cukup banyak bukti tentang adanya Al- lah yang meyakinkan siapa pun yang dengan sungguh-sungguh berusaha mencari kebe- naran mengenai Dia. Namun demikian, iman adalah prasyarat karena”tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Se- bab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Beriman kepada Allah tidak berarti buta. Iman kepada Allah itu didasarkan pada buk- ti yang cukup memadai yang terkandung da- lam perwujudan Allah melalui Kitab Suci dan alam.

ALLAH BERDASARKAN KITAB SUCI

Alkitab menyatakan ciri-ciri hakiki Al- lah melalui nama-Nya, kegiatan-kegiatan dan sifat-sifat-Nya.

Nama-nama Allah. Pada masa Alkitab ditulis, nama amat penting sebagai mana pa- da umumnya kebiasaan yang masih berlaku sekarang ini di Timur Dekat dan Timur. Ada nama yang dianggap menunjukkan sifat-sifat pemiliknya, bagaimana sifatnya yang sebenar-








Keallahan                                                               32



nya dan berikut identitasnya. Pentingnya nama- nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi- at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan dalam hukum- Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah- mu, dengan sembarangan (Kel. 20:7). Daud menyanyi: “Aku hendak bersyukur kepada Tu- han karena keadilan-Nya (Mzm. 7:18). “Na- ma-Nya kudus dan dahsyat(Mzm. 111:9). “Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm.
148:13).
Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”) menunjukkan kuasa Tuhan Allah. Digambar- kannya Tuhan sebagai Oknum yang kokoh dan perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1; Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating- gi”) dan El Elyon (“Allah Yang Mahatinggi”) berfokus pada peninggian kedudukan-Nya (Kej. 14:18-20; Yes. 14:14). Adonai (Tuhan) menggambarkan Allah sebagai Penjaga dan Pembela (Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama ini menekankan sifat Allah yang agung dan amat mulia.
Nama-nama lain yang dimiliki Allah me- nunjukkan kesediaan-Nya menjalin hubung- an dengan umat manusia. Shaddai (“Yang Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1). Nama Yahweh diterjemahkan Jehovah atau Tuhan, menekankan janji setia Allah dan kemurah- an-Nya (Kel. 15:2, 3; Hos. 12:5, 6) Di da- lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri- Nya sebagai “AKU ADALAH AKU, atau “AKULAH AKU telah mengutus aku kepa- damu,menunjukkan hubungan-Nya yang tidak dapat diubah terhadap umat-Nya. Da- lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al- lah menyatakan diri-Nya dengan cara yang sangat akrab dengan sebutan “Bapa (Ul. 32:
6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye- but orang Israel dengan “Israel ialah anak
Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul.
32:19).
Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang terdapat dalam Perjanjian Baru, yang ditu- jukan kepada Allah mengandung kadar mak- na yang setara dengan yang terdapat di da- lam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Baru Yesus menggunakan kata Bapa untuk meng-akrabkan kita secara pribadi dengan Allah (Mat. .6:9; Mrk. 14:36; bandingkan Rm. 8: 15; Gal. 4:6).

Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis Alkitab menggunakan lebih banyak waktu untuk melukiskan kegiatan-kegiatan Allah daripada ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se- bagai Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe- nopang dunia (Ibr. 1:3), dan Penebus serta Juruselamat.(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-
kat beban demi kepentingan nasib manusia.
Ia mengadakan rencana-rencana (Yes. 46:
11), ramalan (Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul.
15:6; 2 Ptr. 3:9). Ia mengampuni dosa-dosa (Kel. 34:7), dan secara konsekwen meneri- ma ibadah, kita (Why. 14:6,7).
Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah sebagai Pemerintah “Raja segala zaman, Al- lah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa” (1 Tim. 1:17). Tindakan-tindakan yang dila- kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang berpribadi.

Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab memberikan informasi tambahan mengenai hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.
Ciri-ciri Allah yang tidak dapat diung- kapkan berisi aspek-aspek sifat Keilahian- Nya tidak diberikan kepada makhluk yang diciptakan. Allah ada dengan sendirinya, ka- rena Ia memiliki “hidup dalam diri-Nya sen- diri(Yoh. 5:26). Ia independen dalam ke- hendak (Ef. 1:5),dan dalam kuasa (Mzm.








Keallahan                                                               33



115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se- suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18; 147:5;
1 Yoh. 3:20), karena sebagai Alfa dan Ome- ga (Why. 1:8), Ia mengetahui akhir dari per- mulaan. (Yes. 46:9-11).
Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4:
13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm.
90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na- mun demikian hadir sepenuhnya dalam seti- ap saat.
Allah penuh kuasa, Mahakuasa. Oleh ka- rena itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi- Nya untuk menjamin bahwa Ia memenuhi apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17,
25, 35; Mat. 19:26; Why. 19:6). Ia kekal— atau tidak dapat diubah—karena sesungguh- nya Ia sempurna. Ia berkata, “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah (Mal. 3:6; baca Mzm. 33:11; Yak. 1:17). Oleh karena itu, ci- ri-ciri ini menyatakan bahwa Allah itu ke- kal selama-lamanya.
Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma- nusia. Dicakupnya kasih (Rm. 5:8), kasih ka- runia (Rm. 3:24), kemurahan (Mzm. 145:9), sabar (2 Ptr 3:15), suci (Mzm. 99:9), kebe- naran (Ezr. 9:15; Yoh. 17:25), keadilan (Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh.
5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber- sama dengan Pemberi itu sendiri.

KEDAULATAN ALLAH

Jelas sekali Kitab Suci mengajarkan ke- daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen- dak-Nya.... Dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya (Dan. 4:35). “Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu se- muanya itu ada dan diciptakan (Why. 4:11). Tuhan melakukan apa yang dikehendaki- Nya, di langit dan di bumi (Mzm. 135: 6).
Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tu- han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini (Ams.
21:1). Paulus yang waspada atas kedaulatan Allah, menulis sebagai berikut, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghen- dakinya. (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32). Se- mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen- dakinya(Yak. 4:15).

Penentuan nasib lebih dahulu dan Ke- bebasan Manusia. Alkitab juga menyata- kan pengendalian yang dilakukan Allah se- penuh-nya atas dunia ini. “Mereka juga di- tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se- rupa dengan gambaran Anak-Nya itu (Rm.
8: 29, 30), ditentukan-Nya menjadi anak- anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4,
5, 11). Betapa suatu pernyataan yang tidak langsung mengenai kebebasan manusia itu.
Kata kerja menentukan dari sejak semu- la berarti “menetapkan sebelumnya. Banyak orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar- kan bahwa Allah secara acak memilih orang untuk selamat sedangkan yang lain membiar- kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me- reka sendiri. Akan tetapi apabila konteks ini dipelajari dengan saksama ternyata Paulus tidaklah membicarakan mengenai Allah yang secara sewenang-wenang berubah dan me- nyingkirkan seseorang.
Titik tolak nas ini ialah sifat yang inclu- sive. Dengan jelas Alkitab menyatakan bah- wa Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). Ia “menghen- daki supaya jangan ada yang binasa, melain- kan supaya semua orang berbalik dan berto- bat (2 Ptr. 3:9). Tidak ada bukti yang Allah telah tetapkan bahwa sebagian orang harus binasa; pernyataan yang demikian menging- kari kematian Kristus di Golgota, karena Ye-








Keallahan                                                               34



sus mati di sana bagi semua orang. Kata se- tiap orang dalam nas, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, su- paya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia- pa pun dapat diselamatkan.
“Bahwa manusia, yang mempunyai ke- bebasan memilih adalah faktor yang menen- tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya- ta bahwa Allah senantiasa menghadirkan ha- sil-hasil penurutan dan hasil-hasil pendurha- kaan, serta mendorong orang berdosa supa- ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30:
19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17); dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri- man sangat mungkin, yang pernah menjadi penerima kasih karunia, jatuh dan binasa (1
Kor. 9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29). “Al- lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu setiap pilihan yang akan dibuat seseorang, akan tetapi pengetahuan-Nya yang lebih da- hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang akan diambilnya.... Penentuan lebih dahulu yang terdapat dalam Alkitab tercapai dalam tujuan efektif yang dirancang Allah yakni, bahwa semua orang yang memilih percaya kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh.
1:12; Ef. 1:4-10).
Lalu apakah yang dimaksud Kitab Suci tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13) yang juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge- raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan dengan ayat 15, 16; Kel. 9:16; 4:21)? Kon- teks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ke- prihatinan Paulus adalah misi, bukan kese- lamatan. Penebusan tersedia bagi siapa pun
—namun demikian Tuhan memilih orang- orang tertentu untuk melaksanakan tugas khusus. Keselamatan yang sama diberikan juga kepada Yakub dan Esau, akan tetapi
Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi jalur yang digunakan Allah untuk menyam- paikan pekabaran keselamatan kepada du- nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam strategi misi-Nya.
Apabila Kitab Suci menyebutkan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku- kan apa yang diperkenankan-Nya, bukanlah berarti Ia menakdirkannya begitu. Sambut- an Firaun yang negatif terhadap panggilan Allah yang sebenarnya menggambarkan bah- wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun dalam menentukan pilihannya.

Mengetahui lebih dahulu dan Kebe- basan Manusia. Ada orang yang percaya bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri- badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere- ka sampai mereka mengadakannya sendiri; bahwa Tuhan mengetahui beberapa peristi- wa mendatang yang tertentu, misalnya me- ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille- nium, dan pemulihan kembali bumi ini, na- mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu- bungan dinamis Allah dengan umat manu- sia ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se- gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke- kekalan kepada kekekalan. Ada pula seba- gian yang mengatakan bahwa Ia akan bosan bila Ia mengetahui akhir dari permulaan.
Akan tetapi pengetahuan Allah mengenai apa yang akan dilakukan individu-individu tidak menyatu dengan apa yang sesungguh- nya menjadi pilihan untuk mereka lakukan, sama halnya pengetahuan seorang ahli seja- rah tentang apa yang pernah dilakukan orang pada masa lalu tidak turut menyatu dengan tindakan-tindakan mereka. Sama seperti po- tret merekam sebuah pemandangan atau pe- ristiwa tetapi tidak mengubahnya, pengeta- huan yang lebih dahulu (foreknowledge) me-








Keallahan                                                               35



natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge- tahui lebih dahulu, sifat yang dimiliki Ke- allahan itu tidak pernah melanggar kebe- basan manusia.

DINAMIKA DALAM KEALLAHAN

Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima- na dengan Kristus dan Roh Kudus?

Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se- keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa lain itu, bangsa Israel percaya bahwa Tuhan itu Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per- jan-jian Baru menekankan yang serupa juga mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32; Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim.
2:5). Pandangan yang monoteistik ini tidak bertentangan dengan konsep Kristen me- ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku- dus; malahan mengukuhkan bahwa tidak ada kuil pelbagai dewa.

Kemajemukan dalam Keallahan. Wa- laupun Perjanjian Lama tidak mengajarkan secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising- gungnya juga mengenai kemajemukan da- lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng- gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik- lah Kita menjadikan manusia menurut. gam-
bar dan rupa Kita” (Kej. 1:26); “Sesungguh-
nya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita turun” (Kej. 11:7). Berulang-ulang malaikat Tuhan diidentifikasi sebagai Allah. Ketika menampakkan diri kepada Musa, Malaikat Tuhan berkata, “Akulah Allah ayahmu, Al- lah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel. 3:6).
Pelbagai petunjuk yang jelas membeda- kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan air (Kej. 1:2). Sebagian nas menunjuk bukan saja kepada Roh tetapi juga kepada pribadi ketiga dalam karya penyela- matan yang berasal dari Allah: "Dan seka- rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me- naruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bang- sa" (Yes. 42:1).

Hubungan dalam Keallahan. Kedatangan Kristus pertama ke dunia ini memberikan be- gitu banyak pandangan jelas tentang ketri- tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan bahwa Keallahan terdiri dari Allah Bapa (ba- ca bab 3 buku ini), Allah Anak (baca bab 4), dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa- tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me- miliki hubungan unik dan misterius.

1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke- tika Kristus berseru, “Allahku, Allahku, me- ngapa Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk.
15:34) Ia merasakan betapa derita ketera- singan dari Allah Bapa akibat dosa manusia, sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah memutuskan hubungan manusia dengan Al- lah (Kej. 3:6-10; Yes. 59:2). Pada detik-de- tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal dosa itu, dijadikan dosa bagi kita. Dalam memi- kul dosa kita, mengambil tempat kita, Ia merasakan perpisahan dari Allah yang se- sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke- matianlah akibatnya.
Orang-orang berdosa tidak akan pernah dapat memahami apa anti kematian Kristus terhadap Keallahan. Dari sejak zaman keke- kalan Ia telah bersama-sama dengan Allah Bapa dan Allah Roh. Mereka hidup abadi dan saling mengasihi. Bekerja sama selalu memperlihatkan kesempurnaan, kasih yang mutlak terdapat dalam Keallahan. “Allah








Keallahan                                                               36



adalah kasih (1 Yoh. 4:8) berarti bahwa ma- sing-masing hidup bagi orang lain sehingga mereka mengalami kesempurnaan kebaha- giaan yang lengkap.
Mengenai kasih ini diterangkan panjang lebar dalam 1 Korintus 13. Sebagian orang mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa- bar dan penderitaan yang terdapat dalam Ke- allahan, yang memiliki hubungan kasih yang sempurna. Yang pertama-tama diperlukan ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma- laikat pemberontak itu, dan kemudian manu- sia yang mendurhaka.
Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al- lah tritunggal itu. Tritunggal itu Ilahi, na- mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba- gi. Kalau dalam organisasi manusia otoritas terakhir terdapat pada satu orang—misalnya pada presiden, raja, atau perdana menteri. Di dalam Keallahan, otoritas terakhir terda- pat pada ketiganya.
Keallahan itu dalam wujud pribadi bu- kan satu, sedangkan dalam tujuan, pikiran dan tabiat Allah tetap satu. Keesaan ini ti- dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak dan Roh Kudus. Adanya pribadi-pribadi yang ter-pisah ini dalam Keilahian tidak menghancurkan pengharapan yang monote- istik yang terdapat dalam Kitab Suci, bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah yang Esa.

2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke- allahan terdapat fungsi penghematan. Allah tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti- dak perlu. Tata tertib adalah hukum perta- ma sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam cara-cara yang tertib. Keteraturan ini dike- luarkan dan memelihara persatuan yang ter- dapat dalam Keallahan. Bapa bertindak se- bagai sumber,
Anak sebagai Mediator (pengantara), dan
Roh sebagai pewujud atau pelaksana.
Indahnya penjelmaan menunjukkan hu- bungan kerja ketiga oknum Keallahan itu. Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me- ngaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16; Mat. 1:18, 20). Kesaksian malaikat kepada Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga- nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu- sia itu. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena- ungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Al- lah (Luk. 1:35).
Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17), Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap- tisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat.
3:13-15), dan Roh memberikan diri-Nya Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa kepada-Nya (Luk. 3:21, 22).
Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku- dus sebagai penasihat atau penolong (Yoh.
14:16). Beberapa jam kemudian, ketika ma- sih tergantung di kayu salib, Yesus berseru kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me- ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.
27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese- lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi bagian dalam seluruh keadaan itu.
Sekarang Bapa dan Anak menjangkau ki- ta melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jika- lau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar da- ri Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh.
15:26). Bapa dan Anak mengirim Roh un- tuk menyatakan Kristus kepada setiap orang. Beban berat Tritunggal adalah membawa Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kris- tus kepada setiap orang (Yoh. 17:3) dan membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20; bandingkan Ibr. 13:5). Orang-orang percaya








Keallahan                                                               37



dipilih untuk selamat, tentang ini Petrus ber- kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki- ta, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima per- cikan darah-Nya (1 Ptr. 1:2).
Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri- badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan Ye- sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu- an Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2
Kor. 13:13). Kristus dalam urutan pertama. Allah berhubungan dengan manusia mela- lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma menjadi manusia. Walaupun ketiga anggota Tritunggal itu bekerja sama untuk menga- dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah yang hidup sebagai manusia, mati sebagai manusia dan kemudian menjadi Juruselamat kita (Yoh. 6:47; Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan tetapi “Sebab Allah mendamaikan dunia de- ngan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (2
Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata- kan sebagai Juruselamat kita (bandingkan Tit. 3:4), karena Ia menyelamatkan kita mela- lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20; bandingkan Tit. 3:6).
Dalam penghematan fungsi, anggota Ke- allahan dengan pribadi yang berbeda melak- sanakan tugas-tugas yang jelas dalam upaya menyelamatkan manusia. Pekerjaan Roh Ku- dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un- tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Ku- dus tujuan pendamaian di kayu salib pada pokoknya menyatakan Kristus sendirilah pendamaian itu. Oleh karena itulah Paulus mengatakan “Kristus yang adalah pengha- rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).

FOKUS KESELAMATAN

Jemaat yang mula-mula membaptiskan orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh
Kudus (Mat. 28:19). Sejak itulah melalui Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya dinya- takan, Alkitab berpusat kepada Kristus. Dia- lah bayang-bayang pengharapan yang di- nyatakan dalam korban-korban serta peraya- an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu- rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu- lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian Lama menatap dan menantikan kedatangan- Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang- an-Nya yang pertama dan berharap akan ke- datangan-Nya kembali.
Kristus, pengantara di antara Allah dan kita, dengan demikian menyatukan kita ke- pada Keallahan. Yesus adalah “jalan dan ke- benaran dan hidup (Yoh. 14:6). Kabar baik itu berpusat kepada Seorang Pribadi, bukan hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan saja—karena Kekristenan itu sendiri adalah Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti, isi dan konteks seluruh kebenaran dan hi- dup.
Dengan memandang kepada salib, kita memandang ke dalam hati Allah. Di dalam alat penyiksaan itu Ia mencurahkan kasih- Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka- sih Keallahan memenuhi hati kita yang ham- pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu salib sebagai karunia Allah dan pengganti bagi kita. Di bukit Golgota Allah turun ke bumi yang paling bawah untuk menemui ki- ta; akan tetapi itulah tempat yang paling ting- gi yang dapat kita tuju. Apabila kita pergi ke bukit Golgota kita naik setinggi apa yang dapat kita lakukan untuk menuju Allah.
Di atas kayu salib itulah Tritunggal me- nyatakan perwujudan dan kelengkapan si- fat yang tidak mementingkan diri. Di sana- lah diungkapkan, perwujudan Allah yang pa- ling lengkap. Kristus menjelma menjadi








Keallahan                                                               38



manusia dan menjadi korban untuk bangsa manusia. Ia lebih menghargai sifat tidak me- mentingkan diri daripada sebaliknya. Di sana Kristus menjadi yang “membenarkan dan menguduskan dan menebus kita (1 Kor. 1:
30). Apa pun nilai dan makna yang kita mi- liki atau yang pernah kita miliki berasal da- ri pengorbanan-Nya di kayu salib.
Allah yang benar hanyalah Allah dari salib itu. Kristus membukakan kepada alam semesta kasih Keallahan yang tiada batas-

nya itu berikut kuasa yang menyelamatkan; diperkenalkan-Nya Allah Tritunggal yang re- la menjalani derita keterpisahan karena cin- ta kasih yang tidak bersyarat yang diberikan kepada planet yang memberontak. Dari sa- lib inilah Allah mengumumkan undangan- Nya yang penuh kasih kepada kita: Damai- lah, “damai sejahtera Allah, yang melam- paui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Flp. 4:7).