Jumat, 14 November 2014

Kutipan

Rumah Tangga Advent (Ellen G White ) 330-348
Pernikahan Adalah suatu perjanjian Seumur Hidup. Di dalam pikiran orang muda, pernikahan itu diselubungi dengan perbuatan romantic dan sulit untuk membuang anggapan yang demikian, terselubung dalam angan-angan yang begitu, dan pikiran diberi kesan dengan tanggung jawab yang begitu berat yang teercakup dalam sumpah pernikahan.  Sumpah pernikahan ini mengikat kedua oknum itu dalam satu nasib yaitu ikatan yang tidak dapat dilepaskan oleh tangan siapapun kevuali kematian
Pada waktu Yesus berkhotbah diatas gunung mengatakan dengan tegas bahwa pernikahan itu tidak dapat diputuskan oleh sesuatu apapun kecuali karena tidak setia pada sumpah pernikahan. “barang siapa,” kata-Nya “yang menceraikan Isterinya, lalu menikah dengan perempuan lain, ia berbuat jina: dan barang siapa menikah dengan perempuan yang diceraikan Suaminya, ia berbuat jina.”
Kamu berdua belum mempunyai tabiat yang tidak sempurna. Karena kamu belum berada di bawah pengawasan Allah, tingkah lakumu terhadap satu dengan yang lain dapat bijaksana. Saya memohon kepadamu agar menyerahkan dirimu di bawah pengadilan Allah. Apabila tergoda untuk berkata yang menyakiti hati, tahanlah dirimu untuk tidak berkata sesuatu apa pun.
Bertobatlah di hadapan Allah dari segala perbuatanmu di masa yang lau, tunjukkanlah saling pengertian, kembalilah bersatu denga suami dan istri. Buanglah segala pengalaman hidupa yang tidak disukai dan yang tidak bahagia di masa yang lalu. Bersemangatlah di dalam Tuhan. Tutuplah jendela jiwa yang menuju surge. Jikalau suaramu dinaikkan di dalam doa kesurga untuk mencari terang, Tuhan Yesus sebagai terang dan kehidupan, damai dan kesukaan, akan mendengar Suaramu.
Seorang wanita boleh secara syah telah bercerai dari suaminya menurut undang-undang Negara, tetapi belum bercerai pada pemandangan Allah dan Menurut undang-undang yang lebih tinggi. Hanya ada satu dosa, yaitu perzinahan, yang dapat menempatkan suami atau istri di dalam suatu posisi di mana mereka dapat bebas dari sumpah pernikahan pada pemenang Allah. Walaupun undang-undang Negara dapat mengabulkan perceraian, tetapi mereka masih juga suami istri di dalam terang Alkitab, menurut undang-undang Allah.
Kalau sang istri adalah seorang yang tidak beriman dan seorang penentang agama, maka menurut pandangan hukum Allah sang suami tidak boleh menyingkirkan dia dengan dasar itu saja. Agar sesuai dengan hukum Yehova ia(Suami) harus tinggal bersama dia (istri) kecuali ia sendriri yang memilih untuk berpisah. Mungkin suami akan menderita banyak perlawananm ditekan dan diganggu di dalam banyak hal; ia akan mendapat penghiburan, kekuatan dan pertolongan dari Allah, yang sanggup memberikan kasih karunia bagi setiap keadaan darurat.
Seorang  suami dan isttri patutlah memupuk rasa hormat dan kasih mereka. Masing-masing patut memperhatikan satu dengan yang lain, berusaha dengan seberapa dapat untuk menguatkan cinta kasih mereka secara timbale balik. Saya beri dorongan kepadamu berdua supaya mencari Tuhan.
Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus (hal 12-38)
Banyak orang mengaku menyembah Allah, tetapi mempunyai pengetahuan yang telah diuji darihal dia. Keinginan mereka untuk melakukan kehendak-Nya didasarkan atas dorongan hatinya sendiri, bukan atas keyakinan yang mendalam dari roh kudus. Kelakuan mereka tidak disesuaikan dengan hukum Allah. mereka mengaku menerima Kristus sebagai juruselamat tetapi mereka tidak percaya bahwa ia akan  memberikan kepada mereka kuasa untuk mengalahkan dosa-dosanya. Mereka tidak mempunyai hubungan pribadi denga juruselamat yang hidup dan tabiat mereka tidak menunjukkan kelemahan-kelemahan baik yang bersifat turunan maupun ditumbukan.
Kasih harus menjadi azas perbuatan. Kasih adalah prinsip dasar pemerintahan Allah di sorga dan di bumi dan itu harus menjadi dasar tabiat kekristenan. Ini saja dapat menyanggupkan dia untuk menahan penindasan dan pencobaan. Dan kasih akan dinyatakan dalam pengorbanan. Rencana penebusan diletakkan dalam pengorbanan, satu pengorbanan yang begitu luas dan dalam serta tinggi sehingga tidak dapat diukur. Kristus menyerahkan segala sesuatu bagi kita dan mereka yang menerima Kristus akan sedia mengorbankan segala sesuatu demi penebusanya. Pandangan mengenai kehormatan dan kemuliaan-Nya akan lebih diutamakan daripada yang lain-lainnya.
Jiak kita mengasihi yesus, kita akan senagn hidup bagi dia, untuk mempersembahkan persembahan syukur kita kepada-Nya, untuk bekerja bagi Dia. Pekerjaan itu akan terasa ringan. Demi nama_nya kita akan berhasrat untuk merasakan kerinduan-Nya bagi keselamatan Manusia. Kita akan merasakan kerinduan yang lembut terhadap jiwa-jiwa yang telah dirasaka-Nya.
Banyak orang bisa berguna dalam pekerjaan Allah menjadi cenderung untuk memperoleh kekayaan. Seluruh tenaganya diserap dalam usaha-usaha perdangangan dan mereka terpaksa melalaikan hal-hal yang bersifat rohani. Dengan demikian mereka mesmisahkan dirinya dari Allah. Kita  dipertintahkan dalam kitab suci agar tidak “kerajinanmu kendor.”
Kita harus bekerja supaya kita dapat memberi kepada orang yang susah. Orang Kristen harus bekerja, mereka harus melibatkan dalam pekerjaan dan mereka dapat melakukan ini tanpa berbuat dosa. Tetapi banyak orang menjadi terlalu sibuk dalam pekerjaan sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk mencari dan menyembah Allah. sewaktu-waktu kerinduan jiwa itu mencari kesucian dan sorga; tetapi tidak ada waktu untuk meninggalkan pekerjaan yang hiruk-pikuk dari dunia ini mendengar kepada kebesaran penuurutan penuh kuasa dari Roh Allah.
Bilamana pikiran itu bersemangat muda dan bergairah dan mudah terkena pengaruh perkembangan yang pesat, terdapat pencobaan yang besar untuk menjadi ambisius terhadap diri sendiri, untuk melayani diri sendiri. Jika rencana-renacan duniawi berhasil, ada kecendrungan untuk bejalan dalam garis yang mematikan angan-angan hati merintangi perkiraan yang tepat mengenai apa yang merangkum keunggulan tabiat yang sesungguhnya. Jika keadaan mengijinkan dalam perkembangan ini, pertumbuhan akan terlihat menuju kea rah yang dilarang oleh firman Allah.
Orang yang belajar mencintai kepelisiran untuk kepentingan diri sendiri, membuka pintu kepada banjir pencobaan. Mereka membiarkan dirinya kepada kegembiraan social dan keringanan yang tidak berakal budi dan hubungan dengan pecinta-pecinta kepelisiran mempunyai suatu akibat yang meracuni pikiran. Mereka dipimpin terus dari satu bentuk pemborosan kepada pemborosanyang lain, sampai mereka kehilangan baik keinginan maupun kekuatan untuk menjalani hidup yang bermanfaat. Hasrat keagamaanya menjadi dingin; kehidupan rohaninya menjadi gelap. Segenap pembawaan jiwa yang agung, semua yang mengubungkan manusia dengan dunia rohani menjadi rndah.
Terlalu sering dalam masa bahaya mereka jatuh dibawah pencobaan dan semua terhanyut jauh dari Allah. akhir dari kehidupan yang suka pelisir hancur di dunia ini dan buat dunia yang akan datnag. Kekhawatiran, kekayan, kepelisiran, semuanya digunakan setan dalam permainan hisup bagi jiwa manusia. Amaran diberikan “jaganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan bapa tidak ada dalam orang itu. Sebab semuan yang ada di dalam dunia ini, yaitu keinginan daging dan keingina mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melaikan dari dunia.”
Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, kedalam jerat dan kedalam berbagai-bagai naafsu yang hampa dan yang memcelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbaga-bagai pencobaan.
Hidup yang terbaik (18-52)
Kerajaan Allah muncul bukan dengan peragaan lahiriah. Kerajaan itu terbentuk melalui kelamahlembutan ilham firman-Nya, melalui pekern roh kudus di dalam hati, persekutuan jiwa dengan Dia yang menjadi hidupnya. Peryataan terbesar akan kuasa-Nya dilihat dalam diri manusia yang menyempurnakan tabiat kristus.
Para pengikut kristus seharusnya menjadi terang dunia; tetepi Allah tidak merestui usaha hanya untuk memuaskan diri dengan memamerkan kebaikan yang luar biasa. Ia ingin agar jiwa mereka dipengaruhi oleh prinsip surgawi; kemudian sementara mereka berhubungan dengan dunia ini, mereka akanmenyatkan terang ajaib yang ada pada dirinya. Kestiaan mereka yang ketet dalam setiap tindakan hidup akan menjadi saluran terang.
Ketika Allah memberikan Anak-Nya kepada dunia ini, Ia memberkati umat manusia dengan kekayaan yang kekal, yaitu kekayaan yang tak dapat dibandingkan dengan kekayaan dunia yang paling berharga tetapi tidak berarti. Kristus datang kedunia ini dan berdiri di hadapan Anak-anak manusia dengan kasih akan kekekalan melimpah, dan inilah harta yang kita terima, nyatakan dan bagikan melalui hubunfan kita dengan dia.
Usaha manusia menjadi berdayaguna dalam pekerjaan Allah tergantung kepada pengabdian yang sunggu-sungguh dari pekerjaan itu sendiri, yaitu dengan menyatakn kuasa karunia Kristus untuk mengubah kehidupan. Kita dibedakan dari duniaa ini karana Allah telah memeteraiak kita, karena Ia menyakan di dalam diri kita tabiat-Nya yang penuh kasih. Penebus menalut diri kita dengan kebenara-Nya.
Banyak orang memegang iman sebagai suatu pendapat. Imanyang menyelamatkan adalah sebuah transaksi, melalui mana mereka yang menerima Kristus menggabungkan diri dalam hubungan perjajoan denganAllah. Suatu iman yang hidup berarti suatu pertambahan kekuatan, suatu kepercayaayn penuh, melalui rahmat Kristus, jiwa itu menjadi suatu kekuatan yang menaklukkan.
Iman adalah Suatu penaklukan yang lebih perkasa daripada kematian. Sekiranya orang sakit dapat dituntun untuk mengarahkan mata mereka dalam iman kepada penyembuhan yang penuh kuasa itu, kita akan melihat hasil ajaib. Hal itu akan mendatangkan kehidupan kepad tubuh dan kepada jiwa.
Di dalam cara yang sama setiap insane manusia dapat datang kepada kristus. “dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.” Adakah engakau merasa bahwa karena engkau seorang berdosa maka engkau tidak dapt berharap untuk menerima berkat dari Allah? ingat bahwa kristus datang kedunia ini untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Kita tidak mempunyai apa-apa untuk menyodorkan diri kita kepada Allah; permohonan yang boleh kita desakkan sekarang dan selamanya ialah keadaankita yang sama sekali tak berdaya, yang membuat kuasa penebusan-Nya menjadi suatu keperluan. Dengan menyangkal seluruh keberuntungan pada diri sendiri, kita boleh memandang kepada kayu salib di golgota dan Berkata:
“Dalam tanganku tak ada yang berharga kubawa; Semata-mata kepada kayu salib-Mu aku berpaut.”
     Dirinya merupakan suatu pemandangan memuakkan. Penyakit itu telah menyerang secara mengerikan, dan tubuhnya yang membusuk itu sungguh menakutkan untuk dipandang. Begitu melihat dirinya orang banyak mundur. Dalam kengerian mereka berjejal satu dengan yang lain untuk menghindari terjandinya kontak denganya. Beberapa orang berusaha mencegah dia mengampiri yesus, tetapi sia-sia. Dia sama sekali tidak mengubris mereka. Pernyataan-pernyataan muak mereka sama sekali tidak diperdulikannya. Dia hanya melihat Putera Allah, dia hanya mendengar suara yang mengucapkan kehidupan kepada orang yang sekarat.
     Saudara Tua kita itu berada di takhta yang kekal. Ia memandang kepada setiap jiwa yang menoleh kepada-Nya sebagai Juruselamat. Ia tahu dari pengalaman apa kelemahan umat manusia, apa yang menjadi kekurangan kita, dan di mana letak kekuatan penggodaan kita; karena "sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." Ia memperhatikan engkau, hai anak Allah yang gemetar. Apakah engkau tergoda? Ia akan melepaskan. Apakah engkau lemah? Ia akan menguatkan. Apakah engkau tidak berpengetahuan? Ia akan menerangi. Adakah engkau terluka? Ia akan menyembuhkan. Tuhan "menentukan jumlah bintang;" namun juga "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka."
     Apapun kecemasan dan pergumulanmu, bentangkan masalahmu di hadapan Tuhan. Jiwamu akan disegarkan agar memiliki daya tahan. Jalan akan dibukakan bagimu guna melepaskan dirimu dari rasa malu dan kesukaran. Semakin lemah dan tak berdaya engkau menyadari dirimu, akan semakin kuatlah engkau di dalam kekuatan-Nya. Semakin berat bebanmu, semakin membahagiakan kelegaan dengan menyerahkan semua itu kepada Pemikul Bebanmu.

Keadaan bisa memisahkan sahabat; gelombang samudera luas yang bergelora bisa menerpa di antara kita dan mereka. Namun tidak ada keadaan, tidak ada jarak, yang dapat memisahkan kita dari Juruselamat. Di mana saja kita berada, Ia berada di samping kanan kita, untuk menopang, memelihara, menegarkan dan menggembirakan kita. Lebih besar dari kasih seorang ibu kepada anaknya adalah kasih Kristus kepada umat. 

Senin, 27 Oktober 2014

Di dalam Terang

Seorang ibu muda baru saja pulang kerja sekitar pukul 4 sore, dan seperti biasa ia segera disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan makan malam untuk suami dan seluruh keluarganya. Tidak ingin konsentrasinya terganggu oleh anak laki-lakinya, ia menyuruh anaknya itu untuk bermain di luar bersama teman-temannya, dengan satu pesan, “Bermainlah di bawah lampu itu saja, jangan pergi kemana-mana,” seraya menunjuk lampu besar di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya.
Hal ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, dan si anak pun terbiasa bermain bersama teman-temannya di bawah lampu tersebut. Sampai suatu hari salah seorang teman anak itu mengajaknya pergi bermain lebih jauh, jauh dari lampu itu. Si anak menolak karena mengingat pesan sang ibu untuk tidak menjauh dari lampu jalan tersebut. Namun temannya terus mengolok-oloknya sehingga akhirnya ia mengikuti ajakan temannya untuk pergi lebih jauh.
Semakin jauh mereka pergi, hati si anak laki-laki itu menjadi gelisah. Terngiang-ngiang pesan sang ibu di telinganya. Hari pun semakin gelap, dan hatinya semakin gelisah. Akhirnya ia memaksa temannya untuk kembali pulang, kembali ke lampu tadi.
Ketika mendekati lampu itu, dari kejauhan si anak melihat seseorang berdiri di bawah lampu jalan itu dengan tak kalah gelisahnya. Semakin mendekat, si anak pun mengenali bahwa itu adalah ibunya yang berdiri di bawah cahaya lampu jalan tersebut. Jantungnya berdegup makin kencang. “Oh, tidak, aku pasti kena marah,” katanya dalam hati. Dengan ragu ia memberanikan diri mendekat ke arah lampu itu. Seketika sang ibu melihat anak laki-lakinya datang, ia langsung berlari menghampiri, merengkuh dan memeluk anaknya itu. “Kamu kemana saja? Ibu kuatir sekali…”
Sekilas si anak melihat air mata menetes di wajah ibunya. Dan ia pun berjanji dalam hati untuk tidak lagi melanggar perintah ibunya.

Seringkali dalam kehidupan kita, sengaja atau tidak sengaja, kita pergi menjauh dari terangAllah. Entah karena godaan dunia, rasa bersalah, kelalaian, atau alasan apapun. Semakin kita menjauh dari terang itu, semakin gelisah hati kita. Hidup kita tidak tenang, dan banyak permasalahan yang kita hadapi. Kita pun takut untuk kembali, seperti kisah anak yang hilang dalam Lukas 15. Namun Bapa kita adalah Bapa yang setia dan penuh kasih. Dia senantiasa menunggu kita untuk kembali ke dalam terang itu. Kapan pun dan dalam keadaan apapun kita datang kembali kepadaNya, Dia tetap akan menyambut kita, merengkuh kita dalam pelukan kasihNya.
Tidak ada satu hal pun yang kita lakukan yang dapat mengurangi kasih Bapa kepada kita; kasihNya tetap tidak berubah sampai selamanya. Mengapa kita merepotkan diri dan mengambil resiko untuk melangkah dalam hidup yang penuh kegelisahan dan permasalahan jika di dalam terang itu kita mendapat jaminan pemeliharaan dan kasih Bapa senantiasa?


Selasa, 14 Oktober 2014


Putih Diatas Hitam
Oleh: Erwin Purba

Kalau hati itu Jahat, maka pikiran pun jahat.
Karena, pikiran yang jahat adalah Produk dari hati yang jahat.

            Seperti yang sesering mungkin kita ketahui, istilah “Hitam diatas Putih” yang memiliki arti yaitu: bahwa secara tertulis dan tidak melalui perkataan. Tapi, Putih diatas hitam adalah suatu bentuk kehidupan orang Kristen yang mempunyai dampak kepada lingkunagannya.
            Putih diatas Hitam adalah kehidupan yang dimana kita menjadi Garam atau Menjadi terang Dunia. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Alkitab Terjemahan Baru, Matius 5:13-14) kehidupan menjadi garam dan terang memang tidak gampang, namun sebagai seorang Kristen harus bisa menjadi Putih diatas Hitam.
            Hidup diatas dunia yang menjadi hitam ini sangan di cari orang yang bisa menjadi Putih yang menjadi penerang yang bisa mencemari putihnya kepada kehitaman Dunia ini. Telah terlalu hitam dunia ini bahkan, sampai orang Kristen menjadi Hitam dan yang dulunya Putih banyak yang telah dinodai oleh hitamnya Dunia ini.
            Karena kekejaman Dunia akan kehitamannya, maka diharapkan orang Kristen yang telah mempelajari Firman Tuhan akan Menjadi sesuatu yang bermanfaat dan Menjadi Suatu terang diatas Dunia ini.
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Mat 5:14

1.      Ketika Terang Menjadi Gelap
Putih diatas hitam bisa hilang menjadi Hitam. Karena ketika terang kita menjadi gelap maka kita tidak akan bisa menerangi Dunia. Ketika kita melihat gerhana matahari apa yang kita katakana, atau ketika malam menjadi gelap gulita apa yang bisa kita perbuat?
Gerhana matahari adalah ketika Matahari tidak Bercahaya. Seringakali Manusia tidak dapat melakukan apapun. Begitulah kehidupan kita kalau ketika berubah kehidupan kita menjadi Gelap.

“Terangmu menjadi gelap,
Sehingga engkau tidak dapat melihat dan banjir meliputi engkau.”
Ayub 22:11

2.      Mengubah Hitam Menjadi Putih.
Seorang penilis menggunakan Pena biasanya menghapus tinta hitamnya menggunakan Tipex
yang warna putih, supaya yang Hitam itu menjadi Putih.  Apak dengan Tipex itu kita bisa menhapus hitamnya atau kegelapan dari Terang kita? Seringkali orang berpikir bahwa terang bereka tidak bersianar karena dengan alas an belum saatnya akan bersinar, bukan belum saatnya tapi karena kita sendiri tidak membuat sinar kita iru bercahaya.


“apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar
apa yang kauinginkan sendiri dan
memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan
terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.”
Yes 58:10
            Ada banyak cara yang bisa kita gunakan untuk menjadi terang kita bercahaya dimana pun kita berada dan dalam situasi apapun yang kita hadapi.

3.      Menampilkan Hitam diatas Putih

Ketika hitam itu kita buat menjadi putih apa yang kita buat? Maka, yang Putih bisa indah di lihat begitu juga kehidupan kita yaitu ketika kita dapat menyinari sesame kita melalui apa yang kita lakukan maka kita akan berguna, karena mustahil orang menggunakan sesuatu yang gelap terangnya dipergunakan orang. Akankah anda membeli lampu tapi tidak menerangi rumah Anda?
Apakah anda sanggup menampilkan anda sebagai Putih diatas Hitam yang menampilkan terang itu dimana dan kapanpun anda berada? Memang susah untuk melakukan itu. Tapi, tuhan menuntut kita untuk menjaadi terang.
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.” Yes 60:1

4.      Ketika Putih dicari Orang
Baju putih atau Baju hitam? Banyak orang akan menjawab baju putih, tapi kalau orang yang agak malas nyuci apalagi kaum pria lebih memilih Baju Hitam. Tapi putih itu adalah warna yang banyak dicari orang. Mengapa? Karena kelihatan indah dan biasanya orang akan menjaga wanra Putih yang mereka miliki supaya tidak menjadi hitam, dan ketika menjadi hitam akan dibersihkan menjadi Putih.
“Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu,
dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.” Yes 60:3
5.      Putih Bersinar
Hidupmu menjadi Putih dan menjadi terang dan kiranya itu bersinar dan melakukan apapun yang bisa menunjukkan kasih dan terang di mana pun lingkungan kita berada. Sebagai orang Kristen kita harus menjadi terang dan menjadi garram dimana pun kita berada.
Banyak hal bisa kita lakukan untuk menjadi terang kita itu nyata dimanapun kita berada:
Banyak hal yang menghalangi kita untuk menjadi putih diantara Hitam, tapi dengan Kuasa sang pencipta maka dengan pertolongan Tuhan kita akan menjadi Putih diatas Hitam. Ketika kita menjadi terang maka banyak pertolongan yang akan diberikan Tuhan kepada Kita supaya kita menjadi terang.

"Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11)
Sebagai orang Kristen marilah kita Menjadi Terang diantara gelam dan menjadi Putih diatas Gelap:
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Mat 6:44

6.      Putih diatas Hitam

Hidup menjadi seseorang teladan itu memang sangat susah dan sangat tidak mungkin bisa melakukan itu, tapi dengan persetujuam Tuhan dan bantuan Yesus kita akan mampu melakukan itu. Tapi, sebagai orang Kristen kita harus melakukan itu dan harus menjadi Putih diatas Hitam.

Jumat, 03 Oktober 2014

TANGAN DAN MATA KRISTUS


Yesaya 49:16
“Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”

Ayat ini menuliskan bahwa Allah berjanji melukiskan nama kita di telapak tanganNya, dan ruang kehidupan kita tidak akan pernah terlewat dari sorotan mataNya.  Ini adalah salah satu jaminan perlindungan dan pemeliharaan Tuhan kepada kita sebagai umatNya.

Berbicara mengenai TANGAN, kita dapat mengetahui bahwa tangan adalah salah satu organ tubuh yang penting dalam kehidupan manusia.  Walaupun tidak semua orang memiliki tangan yang lengkap karena cacatnya dosa, tetapi yang jelas bahwa Allah menciptakan tangan karena memiliki fungsi dalam kehidupan manusia.

Tangan digunakan untuk:
  1. Bekerja
  2. Menulis
  3. Mencangkul
  4. Mengangkat beban
  5. Menggendong
Dan hal istimewa yang baik adalah:
Tangan dapat digunakan untuk berjabat tangan dan membelai.

Namun sangat disayangkan, masih banyak juga orang yang menyalah gunakan fungsi tangan yang baik yang Tuhan berikan.
Dengan tangan orang mulai:
  1. Mencuri
  2. Memukul
  3. Menjambak
  4. Tinju
  5. Menampar, dll

Padahal tangan diberikan Tuhan kepada petani untuk mencangkul.  Tangan diberikan Tuhan kepada Ellen White untuk menulis.  Tangan diberikan Tuhan pada seorang ibu untuk menggendong bayinya.  Dan tangan tidak diberikan Tuhan kepada suami untuk menampar isterinya.

Pernahkan saudara bayangkan kalau saja seorang petani pergi kesawah membawa cangkul tetapi tidak memiliki tangan?
Atau, pernahkan saudara membayangkan sesosok Michael Jordan, pebasket kenamaan dunia yang bermain basket tanpa tangan?
Michael Jordan dapat menjadi Most Valuable Player sebanyak 5 kali karena tangannya yang pernah disebut tangan termahal didunia.  Lebih dari 30 pertandingan Michael dapat mencetak point diatas 50 karena tangannya.  Dan ia mencatatkan namanya sebagai pencetak score terbanyak dalam 8 musim kompetisi Basket Amerika (NBA).  (referensi dari Webster Encyclopedia 1999)

Tetapi tangan yang termahal sejagad raya ini, yang pasti adalah Tangan Kristus.
Tangan itu dikenal sebagai tangan penyembuh yang ajaib.  Tangan penginjil yang memberikan hidup. Tangan penghibur yang rendah hati. 
Tangan tukang kayu yang menyelamatkan seluruh umat, dan masih banyak lagi.
Dengan tangan Yesus menyembuhkan orang sakit.  Dengan tanganNya, Yesus membangkitkan orang mati.  Dengan tanganNya, Yesus memberkati anak-anak, dsb sbb:
  1. Ketika tangan Yesus menjamah tangan Ibu Petrus, sang ibu pun sembuh dari penyakitnya. (Matius 8:15)
  2. Ketika tangan Yesus memegang tangan anak kepala rumah ibadat, maka anak itu bangkit dari kematian. (Matius 9:25)
  3. Dengan tanganNya, Yesus memberkati anak-anak kecil yang datang kepadaNya. (Matius 19:3)
  4. Dan dengan mengulurkan tanganNya di kayu Salib untuk dipakukan, Yesus menjadi Juruselamat saudara dan saya.




Kalau saja Yesaya 49:16 menuliskan bahwa Yesus akan melukiskan nama kita di telapak tanganNya, hal itu memberikan artian:
  1. Setiap pengikut Kristus, Umat Allah, orang Saleh mendapat jaminan aman berada dalam tanganNya.
  2. Tangan Yesus adalah ukuran Penghakiman bagi mereka yang ditebus & menerima penebusan.  TanganNya adalah ukuran penghakiman bagi siapa saja yang namanya layak dituliskan dalam TANGAN KEHIDUPAN atau tidak sama sekali…
  3. Tangan Yesus dipakukan di kayu salib adalah sebagai harga dari PENEBUSAN.  Harga dari HAK KEPEMILIKAN kembali.

Dan kalau saja kita sudah menjadi umat tebusan, miliknya kembali, waris Allah…
Maka ruang-ruang tembok kehidupan kita tidak akan pernah lepas dari sorotan mataNya.

Dan Mata Yesus adalah mata yang berwibawa, penuh kasih tetapi dapat melihat kedalaman hati seseorang yang paling dalam.

Berbicara mengenai mata adalah juga bahan yang cukup menarik untuk dicari tahu.
  1. Dengan mata, seseroang bisa melihat kecantikan
  2. Dengan mata, seseorang bisa melihat keindahan
  3. Dengan mata, seseorang bisa menjadi saksi
  4. Dengan mata, seseorang bisa berbahasa
  5. Dengan kerlingan mata, seseorang bisa jadi genit
  6. Dengan mata, seseorang bisa menyatakan perasaan dukanya

Mata adalah indera yang paling penting dalam tubuh manusia.  Karena itu, seluruh organ tubuh manusia merasa sakit kalau mata terkena debu.  Dan untuk melindungi mata, otak bahwa sadar manusia secara dreflek akan membawa berita untuk menghindar dari bahaya yang mengancam mata.

Tampaknya hampir semua segi kehidupan manusia mengandalkan mata.

Mata adalah indera yang tercanggih di dunia camera.  Camera elektronik tercanggih didunia meniru cara kerja mata, dan masih belum bisa menandingi kecepatan zoom dengan ketajaman focus suatu object  gambar seperti yg dapat dilakukan oleh mata.

-Walaupun presiden Gus Dur menurut pengakuannya sendiri: dapat memerintah bangsa Indonesia tanpa mata yang berfungsi baik…
-Walaupun Stevie Wonder dapat menyanyi tanpa mata karena ia buta…
-Dan Hellen Keller dapat menjadi penulis tersohor tanpa mata karena ia buta…
Namun tak dapat dibayangkan jika:
  1. Michael Jordan tidak memiliki mata untuk memasukkan bola basket dalam keranjang dengan jitu.
  2. Maradona dapat mengetahui letak bola kaki, jika ia tidak memiliki mata
  3. Bill Gates dapat menemukan program-program komputer tanpa menggunakan mata…
  4. dan masih banyak lagi…

Ada  statement yang berbunyi:
Tak dapat dipungkiri bahwa Kebutaan (tanpa mata) adalah sesuatu yang tidak menyenangkan untuk dapat maju kedepan.  Dan sesuatu yang membuat kita buta terhadap masa depan kita adalah KEKHAWATIRAN

Ketika firman Allah mengatakan “serahkanlah segala kuatirmu kepada Tuhan,” sebenarnya Allah juga ingin mengatakan seperti yang terkutip dalam Ulangan 32:10 bahwa “Allah memelihara umatnya bagaikan menjaga biji mataNya.”
Ruang-ruang tembok kehidupan kita tidak akan lepas dari sorotan mataNya.

Kiranya renungan yang singkat ini boleh menjadi berkat bagi kita semua untuk mengingat akan kasih Tuhan terhadap orang-orang saleh yang ditebusnya.
Doa dan harapan kita semua.


Amen.

Selasa, 09 September 2014

JEMBATAN MENUJU KEHIDUPAN YANG MEMUASKAN



Mereka menemukan tulang belulangnya di sisi tempat perlindungan di sebuah pulau terpencil di Atlantik tengah. Seorang pelaut yang tidak dikenal membuat buku harian yang rinci selama 4 bulan. Ia berangkat dari Pulau Ascencion dengan kapal Belanda pada tahun 1725 karena kejahatan yang tidak diungkapkan. Segera ia harus minum darah penyu hanya untuk menghilangkan rasa haus yang mendesak. Penderitaan tubuh lelaki ini sangat berat, tetapi penderitaan yang lebih besar yang tertulis di dalam buku hariannya adalah: perasaan bersalah yang menguasainya.
Ia menuliskan kata-kata seperti: "Taring apakah yang dirasakan manusia fana yang meninggalkan jalan kebenaran, dengan suka hati menambahkan jumlah orang yang terkutuk." Keterasingan pelaut ini di pulau yang sepi disebabkan karena perpisahannya dengan Tuhan. Inilah yang ternyata tidak tertahankan pada akhirnya.
Manusia telah bergumul dengan keterasingan di dalam hatinya sejak Adam dan Hawa "bersembunyi terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman" setelah memakan buah terlarang (Kejadian 3:8). Perasaan aneh yang baru karena malu, bersalah, dan takut memaksa pasangan manusia pertama ini melarikan diri ketika Tuhan datang dan memanggil mereka. Sayangnya, perasaan tersebut adalah sangat kita kenal. Apakah yang menyebabkan perpisahan antara kita dengan Tuhan?
"Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu adalah kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu." - Yesaya 59:2. (Kecuali disebutkan khusus, semua ayat Alkitab di dalam Panduan DISCOVER ini diambil dari Alkitab berbahasa Indonesia terjemahan baru, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia.)


Rabu, 03 September 2014


KEALLAHAN





Text Box: D
Di Golgota hampir semua orang menolak Yesus. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui siapa Dia sebenarnya—terma- suk di antara mereka yang mengenal-Nya ialah pencuri yang hampir mati yang menye- but Dia Tuhan (Luk. 23:42), dan serdadu Ro- ma yang berkata, “Sungguh, orang ini ada-
lah Anak Allah! (Mrk. 15:39).
Tatkala Yohanes menulis, “Ia datang kepa- da milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11), yang dipikirkan Yohanes bukan- lah hanya orang banyak yang ada di sekeli- ling salib itu, bahkan bukan hanya orang Is- rael, melainkan setiap generasi yang pernah hidup. Kecuali beberapa gelintir saja, semua manusia, seperti orang-orang yang berteriak hingga parau di bukit Golgota, telah gagal mengenal Yesus Tuhan dan Juruselamat me- reka. Kegagalan ini menunjukkan bahwa pe- ngetahuan manusia mengenai Allah sangat kurang dan terbatas sekali.
PENGETAHUAN MENGENAI ALLAH

Telah banyak teori yang dilontarkan ‘un- tuk menjelaskan ihwal Allah, banyak pula sanggahan untuk Dia dan menentang ada- nya Dia, hal ini menunjukkan bahwa akal budi manusia tidak mampu menembus yang Ilahi. Kalau bergantung kepada akal budi manusia saja untuk menyelidiki mengenai Tuhan sama saja dengan menggunakan sebu- ah kaca pembesar untuk mempelajari ilmu perbintangan. Karena itu, bagi banyak orang hikmat Tuhan adalah “hikmat yang tersem- bunyi (1 Kor. 2:7). Bagi mereka Tuhan ada- lah misteri. Rasul Paulus menulis, Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal-Nya, sebab kalau sekiranya mereka mengenal- Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia (1 Kor. 2:8).
Salah satu perintah Tuhan yang sangat mendasar dari Kitab Suci ialah supaya me- ngasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap





29








Keallahan                                                               30



hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de- ngan segenap akal budimu(Mat. 22:37; bandingkan dengan Ul. 6:5). Kita tidak da- pat mengasihi seseorang yang sama sekali tidak kita kenal, bahkan kita tidak dapat me- nyelidiki perkara-perkara Allah yang sangat mendalam (Ayb. 11:7). Kalau begitu, bagai- manakah kita dapat mengenal serta menga- sihi Pencipta kita?

Allah Dapat Diketahui atau Dikenal. Mengingat manusia yang berada dalam kea- daan serba berbahaya itu, Allah di dalam ka- sih-Nya dan panjang sabar-Nya, menjangkau kita melalui Alkitab. Ditunjukkannya bah- wa ‘Kekristenan bukanlah sebuah catatan dari hal pertanyaan manusia mengenai Al- lah; melainkan hasil pernyataan Allah dari hal diri-Nya dan maksud-tujuan-Nya kepa- da manusia.1 Pernyataan diri ini direncana- kan untuk menjembatani jurang antara du- nia yang memberontak dengan Tuhan yang pemurah.
Pernyataan kasih Allah yang terbesar me- lalui pernyataan-Nya yang paling agung, yak- ni dengan kehadiran Yesus Kristus, Anak- Nya itu. Melalui Yesus kita dapat mengenal Dia, sang Bapa. Sebagaimana Yohanes me- ngatakan, “Anak Allah telah datang dan te- lah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar” (1 Yoh. 5:20).
Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan menge- nal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3).
Inilah kabar baik. Walaupun mustahil me- ngetahui Tuhan sepenuhnya, namun Kitab Suci memberikan Pengetahuan praktis ten- tang Dia yang cukup memadai untuk kita masuki suatu hubungan yang menyelamat- kan dengan Dia.
Memperoleh Pengetahuan Mengenai Allah. Tidak seperti pengetahuan lainnya, pengetahuan mengenai Allah sama kadarnya antara hati dengan pikiran. Pengetahuan yang demikian mencakup keseluruhannya, tidak hanya intelek saja. Harus ada keterbukaan terhadap Roh Kudus dan kemauan untuk me- lakukan kehendak Allah (Yoh. 7:17; banding- kan Mat. 11:27). Yesus berkata, “Berbaha- gialah orang yang suci hatinya, karena mere- ka akan melihat Allah” (Mat 5: 8).
Oleh karena itu, orang-orang yang tidak beriman, tidak dapat memahami Tuhan. Ra- sul Paulus berseru, “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di ma- nakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini men- jadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hik- matnya, maka Allah berkenan menyelamat- kan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1 Kor. 1:20, 21).
Cara untuk mempelajari pengetahuan mengenai Allah dari Alkitab berbeda dengan segala macam metode pengetahuan. Kita ti- dak boleh menempatkan diri kita sendiri di atas Allah dan memperlakukan-Nya sebagai objek analisis dan objek ukuran. Kalau kita meneliti Allah untuk memperoleh pengeta- huan mengenai Dia, kita harus tunduk ke- pada otoritas penyataan diri-Nya, Alkitab. Karena .Alkitab sendirilah yang menjadi penafsirnya maka kita harus taat kepada prinsip-prinsip dan metode yang terkandung di dalamnya. Tanpa bimbingan yang Alkita- biah kita tidak akan dapat mengenal Allah.
Mengapa begitu banyak orang yang hi- dup pada masa Yesus dahulu tidak mampu melihat pernyataan diri Allah di dalam Ye- sus? Sebabnya ialah karena mereka meno- lak bimbingan Roh Kudus melalui Alkitab, mereka menafsirkan pekabaran Allah de- ngan cara yang salah serta menyalibkan Ju-








Keallahan                                                               31



ruselamat mereka. Masalah mereka bukan- lah masalah intelek. Karena mereka menu- tup pintu hati mereka, maka pikiran mereka pun digelapkan, akibatnya ialah kematian yang kekal.

EKSISTENSI ALLAH

Ada dua sumber utama bukti adanya Tu- han, yakni: buku alam dan Kitab Suci.

Bukti dari Penciptaan. Setiap orang da- pat belajar mengenai adanya Allah melalui alam dan pengalaman manusia. Daud menu- lis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan ta- ngan-Nya (Mzm. 19:2). Yohanes berpenda- pat bahwa pernyataan Allah, termasuk alam, menerangi setiap orang (Yoh. 16). Paulus pun menyatakan, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya; yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nam- pak kepada pikiran dari karya-Nya sejak du- nia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Rm. 1:20).
Perilaku manusia juga menunjukkan buk- ti adanya Allah. Di dalam perbaktian orang Athena ada yang disembah yang disebut “Al- lah yang tidak dikenal,” dan disinilah Pau- lus melihat bukti adanya Tuhan Allah. Kata Paulus, “Apa yang kamu sembah tanpa me- ngenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis. 17:23). Paulus juga mengata- kan perilaku orang-orang yang bukan Kris- ten memberikan kesaksian mengenai “do- rongan diri sendiri” serta menunjukkan bah- wa Taurat Allah tertulis “di dalam hati mere- ka” (Rm. 2:14, 15). Intuisi seperti ini pun, mengenai adanya Allah, terdapat pada orang yang mengetahui Alkitab. Pernyataan yang umum mengenai Allah ini membawa kepa- da sejumlah argumen rasional yang klasik tentang adanya Allah?
Bukti dari Kitab Suci. Alkitab tidak membuktikan adanya Allah. Melainkan me- nganggapnya ada. Pada pembukaan Alkitab itu menyatakan, “Pada mulanya Allah men- ciptakan langit dan bumi” (Kej.1:1): Alkitab menggambarkan Allah sebagai Pencipta, Pe- nyokong dan Pemerintah semua makhluk ciptaan. Pernyataan Allah melalui pencip- taan amat tangguh sehingga tiada dalih bagi penganut ateisme, yang justru timbul dari penindasan kebenaran Ilahi atau dari buah pikiran orang yang menolak mengakui buk- ti bahwa Allah itu ada (Mzm. 14:1; Rm. 1;18-
22, 28).
Cukup banyak bukti tentang adanya Al- lah yang meyakinkan siapa pun yang dengan sungguh-sungguh berusaha mencari kebe- naran mengenai Dia. Namun demikian, iman adalah prasyarat karena”tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Se- bab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Beriman kepada Allah tidak berarti buta. Iman kepada Allah itu didasarkan pada buk- ti yang cukup memadai yang terkandung da- lam perwujudan Allah melalui Kitab Suci dan alam.

ALLAH BERDASARKAN KITAB SUCI

Alkitab menyatakan ciri-ciri hakiki Al- lah melalui nama-Nya, kegiatan-kegiatan dan sifat-sifat-Nya.

Nama-nama Allah. Pada masa Alkitab ditulis, nama amat penting sebagai mana pa- da umumnya kebiasaan yang masih berlaku sekarang ini di Timur Dekat dan Timur. Ada nama yang dianggap menunjukkan sifat-sifat pemiliknya, bagaimana sifatnya yang sebenar-








Keallahan                                                               32



nya dan berikut identitasnya. Pentingnya nama- nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi- at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan dalam hukum- Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah- mu, dengan sembarangan (Kel. 20:7). Daud menyanyi: “Aku hendak bersyukur kepada Tu- han karena keadilan-Nya (Mzm. 7:18). “Na- ma-Nya kudus dan dahsyat(Mzm. 111:9). “Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm.
148:13).
Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”) menunjukkan kuasa Tuhan Allah. Digambar- kannya Tuhan sebagai Oknum yang kokoh dan perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1; Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating- gi”) dan El Elyon (“Allah Yang Mahatinggi”) berfokus pada peninggian kedudukan-Nya (Kej. 14:18-20; Yes. 14:14). Adonai (Tuhan) menggambarkan Allah sebagai Penjaga dan Pembela (Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama ini menekankan sifat Allah yang agung dan amat mulia.
Nama-nama lain yang dimiliki Allah me- nunjukkan kesediaan-Nya menjalin hubung- an dengan umat manusia. Shaddai (“Yang Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1). Nama Yahweh diterjemahkan Jehovah atau Tuhan, menekankan janji setia Allah dan kemurah- an-Nya (Kel. 15:2, 3; Hos. 12:5, 6) Di da- lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri- Nya sebagai “AKU ADALAH AKU, atau “AKULAH AKU telah mengutus aku kepa- damu,menunjukkan hubungan-Nya yang tidak dapat diubah terhadap umat-Nya. Da- lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al- lah menyatakan diri-Nya dengan cara yang sangat akrab dengan sebutan “Bapa (Ul. 32:
6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye- but orang Israel dengan “Israel ialah anak
Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul.
32:19).
Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang terdapat dalam Perjanjian Baru, yang ditu- jukan kepada Allah mengandung kadar mak- na yang setara dengan yang terdapat di da- lam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Baru Yesus menggunakan kata Bapa untuk meng-akrabkan kita secara pribadi dengan Allah (Mat. .6:9; Mrk. 14:36; bandingkan Rm. 8: 15; Gal. 4:6).

Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis Alkitab menggunakan lebih banyak waktu untuk melukiskan kegiatan-kegiatan Allah daripada ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se- bagai Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe- nopang dunia (Ibr. 1:3), dan Penebus serta Juruselamat.(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-
kat beban demi kepentingan nasib manusia.
Ia mengadakan rencana-rencana (Yes. 46:
11), ramalan (Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul.
15:6; 2 Ptr. 3:9). Ia mengampuni dosa-dosa (Kel. 34:7), dan secara konsekwen meneri- ma ibadah, kita (Why. 14:6,7).
Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah sebagai Pemerintah “Raja segala zaman, Al- lah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa” (1 Tim. 1:17). Tindakan-tindakan yang dila- kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang berpribadi.

Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab memberikan informasi tambahan mengenai hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.
Ciri-ciri Allah yang tidak dapat diung- kapkan berisi aspek-aspek sifat Keilahian- Nya tidak diberikan kepada makhluk yang diciptakan. Allah ada dengan sendirinya, ka- rena Ia memiliki “hidup dalam diri-Nya sen- diri(Yoh. 5:26). Ia independen dalam ke- hendak (Ef. 1:5),dan dalam kuasa (Mzm.








Keallahan                                                               33



115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se- suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18; 147:5;
1 Yoh. 3:20), karena sebagai Alfa dan Ome- ga (Why. 1:8), Ia mengetahui akhir dari per- mulaan. (Yes. 46:9-11).
Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4:
13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm.
90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na- mun demikian hadir sepenuhnya dalam seti- ap saat.
Allah penuh kuasa, Mahakuasa. Oleh ka- rena itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi- Nya untuk menjamin bahwa Ia memenuhi apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17,
25, 35; Mat. 19:26; Why. 19:6). Ia kekal— atau tidak dapat diubah—karena sesungguh- nya Ia sempurna. Ia berkata, “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah (Mal. 3:6; baca Mzm. 33:11; Yak. 1:17). Oleh karena itu, ci- ri-ciri ini menyatakan bahwa Allah itu ke- kal selama-lamanya.
Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma- nusia. Dicakupnya kasih (Rm. 5:8), kasih ka- runia (Rm. 3:24), kemurahan (Mzm. 145:9), sabar (2 Ptr 3:15), suci (Mzm. 99:9), kebe- naran (Ezr. 9:15; Yoh. 17:25), keadilan (Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh.
5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber- sama dengan Pemberi itu sendiri.

KEDAULATAN ALLAH

Jelas sekali Kitab Suci mengajarkan ke- daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen- dak-Nya.... Dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya (Dan. 4:35). “Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu se- muanya itu ada dan diciptakan (Why. 4:11). Tuhan melakukan apa yang dikehendaki- Nya, di langit dan di bumi (Mzm. 135: 6).
Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tu- han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini (Ams.
21:1). Paulus yang waspada atas kedaulatan Allah, menulis sebagai berikut, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghen- dakinya. (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32). Se- mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen- dakinya(Yak. 4:15).

Penentuan nasib lebih dahulu dan Ke- bebasan Manusia. Alkitab juga menyata- kan pengendalian yang dilakukan Allah se- penuh-nya atas dunia ini. “Mereka juga di- tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se- rupa dengan gambaran Anak-Nya itu (Rm.
8: 29, 30), ditentukan-Nya menjadi anak- anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4,
5, 11). Betapa suatu pernyataan yang tidak langsung mengenai kebebasan manusia itu.
Kata kerja menentukan dari sejak semu- la berarti “menetapkan sebelumnya. Banyak orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar- kan bahwa Allah secara acak memilih orang untuk selamat sedangkan yang lain membiar- kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me- reka sendiri. Akan tetapi apabila konteks ini dipelajari dengan saksama ternyata Paulus tidaklah membicarakan mengenai Allah yang secara sewenang-wenang berubah dan me- nyingkirkan seseorang.
Titik tolak nas ini ialah sifat yang inclu- sive. Dengan jelas Alkitab menyatakan bah- wa Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). Ia “menghen- daki supaya jangan ada yang binasa, melain- kan supaya semua orang berbalik dan berto- bat (2 Ptr. 3:9). Tidak ada bukti yang Allah telah tetapkan bahwa sebagian orang harus binasa; pernyataan yang demikian menging- kari kematian Kristus di Golgota, karena Ye-








Keallahan                                                               34



sus mati di sana bagi semua orang. Kata se- tiap orang dalam nas, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, su- paya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia- pa pun dapat diselamatkan.
“Bahwa manusia, yang mempunyai ke- bebasan memilih adalah faktor yang menen- tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya- ta bahwa Allah senantiasa menghadirkan ha- sil-hasil penurutan dan hasil-hasil pendurha- kaan, serta mendorong orang berdosa supa- ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30:
19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17); dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri- man sangat mungkin, yang pernah menjadi penerima kasih karunia, jatuh dan binasa (1
Kor. 9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29). “Al- lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu setiap pilihan yang akan dibuat seseorang, akan tetapi pengetahuan-Nya yang lebih da- hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang akan diambilnya.... Penentuan lebih dahulu yang terdapat dalam Alkitab tercapai dalam tujuan efektif yang dirancang Allah yakni, bahwa semua orang yang memilih percaya kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh.
1:12; Ef. 1:4-10).
Lalu apakah yang dimaksud Kitab Suci tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13) yang juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge- raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan dengan ayat 15, 16; Kel. 9:16; 4:21)? Kon- teks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ke- prihatinan Paulus adalah misi, bukan kese- lamatan. Penebusan tersedia bagi siapa pun
—namun demikian Tuhan memilih orang- orang tertentu untuk melaksanakan tugas khusus. Keselamatan yang sama diberikan juga kepada Yakub dan Esau, akan tetapi
Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi jalur yang digunakan Allah untuk menyam- paikan pekabaran keselamatan kepada du- nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam strategi misi-Nya.
Apabila Kitab Suci menyebutkan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku- kan apa yang diperkenankan-Nya, bukanlah berarti Ia menakdirkannya begitu. Sambut- an Firaun yang negatif terhadap panggilan Allah yang sebenarnya menggambarkan bah- wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun dalam menentukan pilihannya.

Mengetahui lebih dahulu dan Kebe- basan Manusia. Ada orang yang percaya bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri- badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere- ka sampai mereka mengadakannya sendiri; bahwa Tuhan mengetahui beberapa peristi- wa mendatang yang tertentu, misalnya me- ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille- nium, dan pemulihan kembali bumi ini, na- mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu- bungan dinamis Allah dengan umat manu- sia ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se- gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke- kekalan kepada kekekalan. Ada pula seba- gian yang mengatakan bahwa Ia akan bosan bila Ia mengetahui akhir dari permulaan.
Akan tetapi pengetahuan Allah mengenai apa yang akan dilakukan individu-individu tidak menyatu dengan apa yang sesungguh- nya menjadi pilihan untuk mereka lakukan, sama halnya pengetahuan seorang ahli seja- rah tentang apa yang pernah dilakukan orang pada masa lalu tidak turut menyatu dengan tindakan-tindakan mereka. Sama seperti po- tret merekam sebuah pemandangan atau pe- ristiwa tetapi tidak mengubahnya, pengeta- huan yang lebih dahulu (foreknowledge) me-








Keallahan                                                               35



natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge- tahui lebih dahulu, sifat yang dimiliki Ke- allahan itu tidak pernah melanggar kebe- basan manusia.

DINAMIKA DALAM KEALLAHAN

Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima- na dengan Kristus dan Roh Kudus?

Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se- keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa lain itu, bangsa Israel percaya bahwa Tuhan itu Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per- jan-jian Baru menekankan yang serupa juga mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32; Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim.
2:5). Pandangan yang monoteistik ini tidak bertentangan dengan konsep Kristen me- ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku- dus; malahan mengukuhkan bahwa tidak ada kuil pelbagai dewa.

Kemajemukan dalam Keallahan. Wa- laupun Perjanjian Lama tidak mengajarkan secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising- gungnya juga mengenai kemajemukan da- lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng- gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik- lah Kita menjadikan manusia menurut. gam-
bar dan rupa Kita” (Kej. 1:26); “Sesungguh-
nya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita turun” (Kej. 11:7). Berulang-ulang malaikat Tuhan diidentifikasi sebagai Allah. Ketika menampakkan diri kepada Musa, Malaikat Tuhan berkata, “Akulah Allah ayahmu, Al- lah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel. 3:6).
Pelbagai petunjuk yang jelas membeda- kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan air (Kej. 1:2). Sebagian nas menunjuk bukan saja kepada Roh tetapi juga kepada pribadi ketiga dalam karya penyela- matan yang berasal dari Allah: "Dan seka- rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me- naruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bang- sa" (Yes. 42:1).

Hubungan dalam Keallahan. Kedatangan Kristus pertama ke dunia ini memberikan be- gitu banyak pandangan jelas tentang ketri- tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan bahwa Keallahan terdiri dari Allah Bapa (ba- ca bab 3 buku ini), Allah Anak (baca bab 4), dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa- tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me- miliki hubungan unik dan misterius.

1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke- tika Kristus berseru, “Allahku, Allahku, me- ngapa Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk.
15:34) Ia merasakan betapa derita ketera- singan dari Allah Bapa akibat dosa manusia, sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah memutuskan hubungan manusia dengan Al- lah (Kej. 3:6-10; Yes. 59:2). Pada detik-de- tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal dosa itu, dijadikan dosa bagi kita. Dalam memi- kul dosa kita, mengambil tempat kita, Ia merasakan perpisahan dari Allah yang se- sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke- matianlah akibatnya.
Orang-orang berdosa tidak akan pernah dapat memahami apa anti kematian Kristus terhadap Keallahan. Dari sejak zaman keke- kalan Ia telah bersama-sama dengan Allah Bapa dan Allah Roh. Mereka hidup abadi dan saling mengasihi. Bekerja sama selalu memperlihatkan kesempurnaan, kasih yang mutlak terdapat dalam Keallahan. “Allah








Keallahan                                                               36



adalah kasih (1 Yoh. 4:8) berarti bahwa ma- sing-masing hidup bagi orang lain sehingga mereka mengalami kesempurnaan kebaha- giaan yang lengkap.
Mengenai kasih ini diterangkan panjang lebar dalam 1 Korintus 13. Sebagian orang mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa- bar dan penderitaan yang terdapat dalam Ke- allahan, yang memiliki hubungan kasih yang sempurna. Yang pertama-tama diperlukan ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma- laikat pemberontak itu, dan kemudian manu- sia yang mendurhaka.
Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al- lah tritunggal itu. Tritunggal itu Ilahi, na- mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba- gi. Kalau dalam organisasi manusia otoritas terakhir terdapat pada satu orang—misalnya pada presiden, raja, atau perdana menteri. Di dalam Keallahan, otoritas terakhir terda- pat pada ketiganya.
Keallahan itu dalam wujud pribadi bu- kan satu, sedangkan dalam tujuan, pikiran dan tabiat Allah tetap satu. Keesaan ini ti- dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak dan Roh Kudus. Adanya pribadi-pribadi yang ter-pisah ini dalam Keilahian tidak menghancurkan pengharapan yang monote- istik yang terdapat dalam Kitab Suci, bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah yang Esa.

2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke- allahan terdapat fungsi penghematan. Allah tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti- dak perlu. Tata tertib adalah hukum perta- ma sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam cara-cara yang tertib. Keteraturan ini dike- luarkan dan memelihara persatuan yang ter- dapat dalam Keallahan. Bapa bertindak se- bagai sumber,
Anak sebagai Mediator (pengantara), dan
Roh sebagai pewujud atau pelaksana.
Indahnya penjelmaan menunjukkan hu- bungan kerja ketiga oknum Keallahan itu. Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me- ngaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16; Mat. 1:18, 20). Kesaksian malaikat kepada Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga- nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu- sia itu. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena- ungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Al- lah (Luk. 1:35).
Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17), Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap- tisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat.
3:13-15), dan Roh memberikan diri-Nya Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa kepada-Nya (Luk. 3:21, 22).
Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku- dus sebagai penasihat atau penolong (Yoh.
14:16). Beberapa jam kemudian, ketika ma- sih tergantung di kayu salib, Yesus berseru kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me- ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.
27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese- lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi bagian dalam seluruh keadaan itu.
Sekarang Bapa dan Anak menjangkau ki- ta melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jika- lau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar da- ri Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh.
15:26). Bapa dan Anak mengirim Roh un- tuk menyatakan Kristus kepada setiap orang. Beban berat Tritunggal adalah membawa Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kris- tus kepada setiap orang (Yoh. 17:3) dan membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20; bandingkan Ibr. 13:5). Orang-orang percaya








Keallahan                                                               37



dipilih untuk selamat, tentang ini Petrus ber- kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki- ta, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima per- cikan darah-Nya (1 Ptr. 1:2).
Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri- badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan Ye- sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu- an Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2
Kor. 13:13). Kristus dalam urutan pertama. Allah berhubungan dengan manusia mela- lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma menjadi manusia. Walaupun ketiga anggota Tritunggal itu bekerja sama untuk menga- dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah yang hidup sebagai manusia, mati sebagai manusia dan kemudian menjadi Juruselamat kita (Yoh. 6:47; Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan tetapi “Sebab Allah mendamaikan dunia de- ngan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (2
Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata- kan sebagai Juruselamat kita (bandingkan Tit. 3:4), karena Ia menyelamatkan kita mela- lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20; bandingkan Tit. 3:6).
Dalam penghematan fungsi, anggota Ke- allahan dengan pribadi yang berbeda melak- sanakan tugas-tugas yang jelas dalam upaya menyelamatkan manusia. Pekerjaan Roh Ku- dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un- tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Ku- dus tujuan pendamaian di kayu salib pada pokoknya menyatakan Kristus sendirilah pendamaian itu. Oleh karena itulah Paulus mengatakan “Kristus yang adalah pengha- rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).

FOKUS KESELAMATAN

Jemaat yang mula-mula membaptiskan orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh
Kudus (Mat. 28:19). Sejak itulah melalui Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya dinya- takan, Alkitab berpusat kepada Kristus. Dia- lah bayang-bayang pengharapan yang di- nyatakan dalam korban-korban serta peraya- an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu- rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu- lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian Lama menatap dan menantikan kedatangan- Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang- an-Nya yang pertama dan berharap akan ke- datangan-Nya kembali.
Kristus, pengantara di antara Allah dan kita, dengan demikian menyatukan kita ke- pada Keallahan. Yesus adalah “jalan dan ke- benaran dan hidup (Yoh. 14:6). Kabar baik itu berpusat kepada Seorang Pribadi, bukan hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan saja—karena Kekristenan itu sendiri adalah Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti, isi dan konteks seluruh kebenaran dan hi- dup.
Dengan memandang kepada salib, kita memandang ke dalam hati Allah. Di dalam alat penyiksaan itu Ia mencurahkan kasih- Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka- sih Keallahan memenuhi hati kita yang ham- pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu salib sebagai karunia Allah dan pengganti bagi kita. Di bukit Golgota Allah turun ke bumi yang paling bawah untuk menemui ki- ta; akan tetapi itulah tempat yang paling ting- gi yang dapat kita tuju. Apabila kita pergi ke bukit Golgota kita naik setinggi apa yang dapat kita lakukan untuk menuju Allah.
Di atas kayu salib itulah Tritunggal me- nyatakan perwujudan dan kelengkapan si- fat yang tidak mementingkan diri. Di sana- lah diungkapkan, perwujudan Allah yang pa- ling lengkap. Kristus menjelma menjadi








Keallahan                                                               38



manusia dan menjadi korban untuk bangsa manusia. Ia lebih menghargai sifat tidak me- mentingkan diri daripada sebaliknya. Di sana Kristus menjadi yang “membenarkan dan menguduskan dan menebus kita (1 Kor. 1:
30). Apa pun nilai dan makna yang kita mi- liki atau yang pernah kita miliki berasal da- ri pengorbanan-Nya di kayu salib.
Allah yang benar hanyalah Allah dari salib itu. Kristus membukakan kepada alam semesta kasih Keallahan yang tiada batas-

nya itu berikut kuasa yang menyelamatkan; diperkenalkan-Nya Allah Tritunggal yang re- la menjalani derita keterpisahan karena cin- ta kasih yang tidak bersyarat yang diberikan kepada planet yang memberontak. Dari sa- lib inilah Allah mengumumkan undangan- Nya yang penuh kasih kepada kita: Damai- lah, “damai sejahtera Allah, yang melam- paui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Flp. 4:7).